Kumpulan literatur ilmiah mengenai penyakit-penyakit tidak menular yang dihimpun oleh Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya Angkatan 2011

21 Mar 2013

Penyakit Jantung Koroner



Disusun Oleh:

                   Lailatul Rahmah (10111001008)         Atidira Dwi Hanani (10111001039)
                   Niken Tri Gusti (10111001015)          Riski Amelia (10111001046)
                   Siti Kurniatun (10111001033)             Imroatin Wakhidah (10111001060)

Contact Person
email: imroatin.x5.smansa@gmail.com, skvg_arieda@yahoo.com
twitter: @diraadh @ilarahmah
facebook: Riski Amelia Ibrahim, Nniiken Triigusty




Pendahuluan

Penyakit kardiovaskular (CVD) adalah nama untuk sekelompok gangguan jantung dan pembuluh darah, dan mencakup penyakit jantung koroner (PJK). Penyakit kardiovaskular adalah penyebab kematian nomor satu secara global: lebih banyak orang meninggal setiap tahun karena penyakit kardiovaskular daripada penyebab lainnya. [1]
PJK merupakan salah satu bentuk utama penyakit kardiovaskuler (penyakit jantung dan pembuluh darah). Menurut WHO (1990) kematian karena PJPD adalah 12 juta/ tahun, menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. [2]
Di Amerika Serikat, jenis yang paling umum dari penyakit jantung adalah penyakit arteri koroner (CAD), yang dapat menyebabkan serangan jantung. Kita dapat mengurangi resiko untuk CAD melalui perubahan gaya hidup dan dalam beberapa kasus, dengan obat-obatan.[3]
Sekitar 600.000 orang meninggal karena penyakit jantung di Amerika Serikat. Penyakit jantung adalah penyebab utama kematian bagi pria dan wanita. Lebih dari setengah dari kematian akibat penyakit jantung pada tahun 2009 berada pada pria. Penyakit jantung koroner adalah jenis yang paling umum dari penyakit jantung, menewaskan lebih dari 385.000 orang setiap tahunnya.[4]
Di Indonesia, penyebab angka kematian terbesar adalah akibat penyakit jantung koroner. Tingginya angka kematian di Indonesia akibat penyakit jantung koroner (PJK) mencapai 26%. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional (SKRTN), dalam 10 tahun terakhir angka tersebut cenderung mengalami peningkatan. Jumlah kasus Penyakit Jantung Koroner di Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 sebanyak  12.338 kasus. Kasus tertinggi Penyakit Jantung Koroner adalah di Kota Semarang yaitu sebesar 1.487 (19,54%), dibanding dengan jumlah keseluruhan kasus Penyakit Jantung Koroner di kabupaten/kota lain di Jawa Tengah.[5]

Definisi Kasus 

Menurut CDC, penyakit arteri koroner terjadi ketika zat yang disebut plak menumpuk di arteri yang memasok darah ke jantung (disebut arteri koroner). Plak terdiri dari endapan kolesterol, yang dapat terakumulasi dalam arteri. Ketika ini terjadi, arteri dapat menyempit dari waktu ke waktu. Proses ini disebut aterosklerosis.[6]
Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyakit yang terjadi sebagai manifestasi dari penurunan suplai oksigen ke otot jantung sebagai akibat penyempitan atau penyumbatan aliran darah arteri koronaria yang manifestasi kliniknya, tergantung pada berat ringannya penyumbatan arteri koronaria.[7]



Sumber gambar: http://aliefherbal.com/penyakit/ciri-ciri-penyakit-jantung-koroner.html

Menurut U.S. National Library of Medicine, Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyempitan pembuluh darah kecil yang memasok darah dan oksigen ke jantung. PJK juga disebut penyakit arteri koroner.[8]
Menurut WHO, PJK adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan jantung dan pembuluh darah, dan termasuk penyakit jantung koroner (serangan jantung), penyakit serebrovaskular (stroke), peningkatan tekanan darah (hipertensi), penyakit arteri perifer, penyakit jantung rematik, penyakit jantung bawaan dan gagal jantung. Penyebab utama penyakit kardiovaskular adalah penggunaan tembakau, aktivitas fisik, diet yang tidak sehat dan penggunaan berbahaya alkohol.[9]



Gambar Ilustrasi Anatomi Jantung
Sumber: http://vector-art.blogspot.com/2008/11/anatomic-heart-vector-illsutration-in.html

Faktor Risiko
1.      Hipertensi
Tekanan darah tinggi menambah kerja jantung sehingga dinding jantung menebal/kaku dan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.
2.      Kolesterol
Penyebab penyakit jantung koroner adalah endapan lemak pada dinding arteri koroner, yang terdiri dari kolesterol dan zat buangan lainnya. Kadar kolesterol tinggi bisa menyebabkan penyumbatan arteri dan jantung.
3.      Rokok
Kandungan nikotin di dalam rokok merupakan racun mematikan yang dapat menjadi faktor resiko PJK.
4.      Kencing Manis
Diabetes meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, terlebih bila kadar gula darah tidak dikontrol dengan baik.
5.      Stres
Stres menimbulkan perangsangan saraf simpatis. Irama detak jantung tak teratur hingga menimbulkan gangguan pada jantung.
6.      Obesitas
Obesitas meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan diabetes. Orang yang kegemukan juga cenderung memiliki kadar HDL rendah/ LDL tinggi.
7.      Gaya hidup
Gaya hidup yang buruk dapat berpengaruh terhadap penyakit jantung. Gaya hidup yang buruk ini seperti pola makan yang tidak teratur, sering mengkonsumsi fast food/junk food, dan kurangnya aktivitas fisik yang menyebabkan kerja jantung bertambah.
8.      Kurang olahraga
Apabila kita kurang berolahraga jantung tidak akan sanggup menanggung kelebihan serta ketegangan yang diakibatkan oleh aktivitas diluar aktivitas normal kita.[2]

Pencegahan PJK

Yayasan Jantung Indonesia memperkenalkan apa yang disebut Panca Usaha Kesehatan jantung yang menganjurkan pola hidup “sehat” berupa:
‘S’eimbang gizi
‘E’nyahkan rokok
‘H’indari stres
‘A’wasi tekanan darah secara teratur
‘T’eratur berolahraga[2]
Upaya pencegahan primer, yaitu mencegah mereka yang sehat agar tidak mendapatkan penyakit jantung koroner atau serangan jantung, seperti pola makan sehat dan gizi seimbang, perbanyak olahraga, berfikiran positif dan hindari stress, dan hindari kebiasaan minum minuman beralkohol.[10]
Pencegahan sekunder adalah upaya pencegahan bagi penderita PJK agar tidak mendapatkan komplikasi akibat PJK, termasuk serangan jantung baik yang pertama maupun serangan jantung ulangan. Misalnya¸ diagnosis dini dan pengobatan segera, perawatan medis, dan pemabatasan ketidakmampuan.[11]
Pencegahan tersier adalah upaya pencegahan bagi penderita PJK agar tidak mengalami komplikasi lanjut atau kecacatan akibat PJK. Misalnya¸ pemeriksaan secara berkala, rehabilitasi, menjaga pola makan, olahraga rutin, dan pemberian motivasi. [11]

Penelitian Tentang PJK

Judul penelitian: Hubungan obesitas dengan beberapa factor risiko Penyakit Jantung Koroner di Laboratorium Klinik Prodia Makassar tahun 2005.
Peneliti: Hariadi, Arsad Rahim.
Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui hubungan obesitas dengan beberapa faktor resiko Penyakit Jantung Koroner seperti diabetes melitus, dislipidemia dan hipertensi di laboratorium klinik Prodia Makassar tahun 2005.
Metode penelitian: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan pendekatan cros sectional.
Hasil penelitianHasil penelitian pada analisis bivariat didapatkan hubungan bermakna kejadian penyakit jantung koroner pada obesitas yang disertai diabetes melitus (p 0,018), hubungan bermakna kejadian penyakit jantung koroner pada obesitas yang disertai dengan hipertensi ( p 0,007) dan tidak terdapat hubungan bermakna kejadian penyakit jantung koroner pada obesitas yang disertai dislipidemia ( p 0,355).[12]


Judul penelitian: Faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian penyakit jantung koroner pada kelompok usia <45 tahun.
Peneliti: Mamat Supriyono.
Tujuan penelitian: Untuk mengetahui besarnya pengaruh faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan tidak dapat dimodifikasi terhadap kejadian PJK pada usia < 45 tahun.
Metode penelitian: Jenis penelitian adalah observasional dengan rancangan kasus control. Jumlah sampel 80 kasus dan 80 kontrol.
Hasil penelitianAnalisa multivariate menunjukkan bahwa faktor-faktor yang terbukti berpengaruh terhadap kejadian PJK dan merupakan faktor risiko PJK pada kelompok usia < 45 tahun adalah: dislipidemia (p=0,006 dan OR=2,8 ; 95% CI=1,3-6,0), kebiasaan merokok (p=0,011 dan OR=2,4 ; 95% CI=1,2-4,8), adanya penyakit DM (p=0,026 dan OR=2,4; 95% CI=1,2-5,9) dan penyakit DM dalam keluarga (p=0,018 dan OR=2,3 ; 95% CI=1,1-4,5).
Simpulan : faktor-faktor yang terbukti berpengaruh terhadap kejadian PJK dan merupakan faktor risiko PJK pada kelompok usia < 45 tahun adalah: dislipidemia, kebiasaan merokok, penyakit DM dan penyakit DM dalam keluarga.[13]

Judul penelitian: Prevalensi penderita penyakit jantung koroner dengan kadar kolesterol-HDL rendah di RS. Bina Waluya tahun 2008-2009.
Peneliti: Arum Widi Sarastuti.
Tujuan penelitian: Mengetahui prevalensi penderita PJK dengan kadar kolesterol HDL rendah pada di RS. Jantung Binawaluya selama tahun 2008-2009.
Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan jenis cross sectional. Jumlah sample yang digunakan pada penelitian ini adalah sebanyak 533 pasien.
Hasil penelitian: Pada penelitian ini, didapatkan prevalensi PJK selama satu tahun adalah 64,46%, dengan pasien yang memiliki kadar kolesterol-HDL rendah sebanyak 60,4%.
Simpulan: Berdasarkan penelitian ini didapatkan bahwa kadar kolesterolHDL rendah memiliki peran terhadap terjadinya penyakit jantung koroner. Sehingga diharapkan dapat mengingatkan akan pentingnya kadar kolesterol-HDL sebagai target terapi dalam pengobatan penyakit jantung koroner.[14]


Kesimpulan

PJK merupakan salah satu bentuk utama penyakit kardiovaskuler (penyakit jantung dan pembuluh darah). Menurut WHO (1990) kematian karena penyakit ini adalah 12 juta/ tahun dan menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia.[2] Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyakit yang terjadi sebagai manifestasi dari penurunan suplai oksigen ke otot jantung sebagai akibat penyempitan atau penyumbatan aliran darah arteri koronaria yang manifestasi kliniknya, tergantung pada berat ringannya penyumbatan arteri koronaria.[6]
Faktor resiko dari penyakit jantung koroner diantaranya adalah hipertensi, kolesterol tinggi, merokok, diabetes, stress, obesitas, gaya hidup tidak sehat, dan kurang olahraga.[10Untuk mencegah penyakit jantung koroner dilakukan upaya pencegahan primer yaitu dengan pengaturan pola makan yang baik, perbanyak olahraga, berfikiran positif dan hindari stress, dan hindari kebiasaan minum minuman beralkohol. [10]
Selain itu, juga dilakukan pencegahan sekunder  seperti diagnosis dini dan pengobatan segera, perawatan medis, dan pemabatasan ketidakmampuan dan pencegahan tersier dengan pemeriksaan secara berkala, rehabilitasi, menjaga pola makan, olahraga rutin, dan pemberian motivasi. [11]






Daftar Pustaka


[1]      WHO. 2013. About Cardiovascular diseases. World Health Organization. Geneva. Available at: http://www.who.int/cardiovascular_diseases/about_cvd/en/ accessed on March 10th, 2013
[2]         Bustan, M.N. 1997. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka Cipta.
[3]         CDC. 2013. Heart Disease. CDC. USA. Available at: http://www.cdc.gov/heartdisease/ accessed on March 10th, 2013
[4]         Kochanek KD, Xu JQ, et al. 2011. National vital statistics reports. CDC. USA. Available at: http://www.cdc.gov/nchs/data/nvsr/nvsr60/nvsr60_03.pdf accessed on March 10th, 2013
[5]         Dinas Kesehatan Jawa Tengah. 2005. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Dinas Kesehatan. Jawa Tengah. Available at: http://www.dinkesjatengprov.go.id/dokumen/profil/profile2004/bab5.htm accessed on March 21th, 2013
[6]         Kodim, Nasrin. 2010. Himpunan Bahan Kuliah Penyakit Tidak Menular. FKM-UI. Jakarta.
[7]     CDC. 2009. Coronary Artery Disease (CAD). CDC. USA. Available at:  http://www.cdc.gov/heartdisease/coronary_ad.htm accessed on March 10th, 2013
[8]        WHO. 2013. Cardiovascular Diseases. World Health Organization. Geneva. Available at: http://www.who.int/topics/cardiovascular_diseases/en/ accessed on March 10th, 2013
[9]       A.D.A.M. Medical Encyclopedia. 2012. Coronary heart disease. U.S. National Library of Medicine. USA. Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0004449/ accessed on March 21th, 2013
[10]     KMK No. 854 Tahun 2009 tentang Pengendalian Penyakit Jantung. Available at: http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_kepmenkes/KMK%20No.%20854%20Tahun%202009%20ttg%20Pengendalian%20Penyakit%20Jantung.pdf accessed on March 13th, 2013
[11]     Majid, Abdul. 2007. Penyakit Jantung Koroner: Patofisiologi, Pencegahan, dan Pengobatan Terkini. USU. Sumatera Utara. Available at: http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/705 accessed on March 13th, 2013
[12]    Hariadi, Arsad Rahim. 2005. Hubungan obesitas dengan beberapa faktor risiko Penyakit Jantung Koroner. Makassar. Available at: http://arali2008.files.wordpress.com/2008/09/obesitas-dan-jantung-koroner.pdf accessed on March 20th, 2013
[13]     Widi Sarastuti, Arum. 2009. Prevalensi penderita penyakit jantung koroner dengan kadar kolesterol-HDL rendah di RS. Bina Waluya tahun 2008-2009. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta. Available at: http://perpus.fkik.uinjkt.ac.id/file_digital/Arum%20Widi%20Sarastuti.pdf accessed on March 20th, 2013
[14]   Supriyono, Mamat. 2008. Faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian penyakit jantung koroner pada kelompok usia <45 tahun. Universitas Diponegoro. Semarang. Available at: http://eprints.undip.ac.id/18090/1/MAMAT_SUPRIYONO.pdf accessed on March 20th, 2013


Link Youtube terkait dengan PJK

Penyakit Jantung Koroner
http://www.youtube.com/watch?v=Wo94Te3SqyA

Jantung Koroner

24 komentar:

  1. Pertanyaan:

    MARETALINIA (10111001010)
    Aslm. Saya dari kelompok kanker payudara, ingin bertanya...pada pencegahan sekunder terdapat diagnosis dini. Yang ingin saya tanyakan, metode apa yang digunakan untuk diagnosis dini PJK selain pemeriksaan kolesterol secara teratur? Karena yang saya tahu, penderita PJK kebanyakan baru tahu bahwa ia menderita PJK setelah stadium lanjut bahkan langsung meninggal tanpa pernah didiagnosa terlebih dahulu. Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih. ^_^ Waslm.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumussalam.wr.wb.
      Terimakasih untuk pertanyaannya yang sangat bagus :)
      Memang kebanyakan penderita PJK baru tahu bahwa ia menderita PJK setelah stadium lanjut bahkan langsung meninggal, maka dari itu, kita perlu melakukan pencegahan agar hal tersebut tidak kembali terjadi. Salah satunya adalah dengan diganosis dini.
      Selain pemeriksaan kolesterol, metode yang digunakan untuk diagnosis dini PJK adalah dengan pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan ekhokardiografi - katup jantung, penebalan otot, pemeriksaan gula darah, MSCT (Anatomi Pembuluh Darah), atau katerisasi jantung (penyempitan pembuluh darah).
      Untuk katerisasi jantung, Pemeriksaan dilakukan dengan mendeteksi adanya sumbatan di pembuluh darah koroner. Pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan berbagai alat.
      Hasil dari kateterisasi jantung membuat kita tahu langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya.

      Hapus
    2. Terima kasih atas jawabannya, :)

      Hapus
  2. Nama: Desi Ratnasari
    Nim: 10111001003
    izin nanya,
    pada penelitian PJK disebutkan Tujuan penelitian: Untuk mengetahui besarnya pengaruh faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan tidak dapat dimodifikasi terhadap kejadian PJK, tolong teman jelaskan FR yg dapat dimodifiksi dg tidak. terimaksih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih untuk pertanyaannya yang istimewa :)
      Faktor risiko PJK dapat digolongkan menjadi 2 kategori, yakni faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi. Beberapa faktor risiko yang yang dapat dimodifikasi antara lain kadar kolesterol darah, kadar LDL (Low Density Lipoprotein), kadar trigliserida, hipertensi, diabetes, obesitas, aktivitas fisik yang kurang, serta merokok. Semua faktor risiko tadi merupakan faktor risiko yang dapat dikontrol, baik dengan perubahan gaya hidup maupun medikasi. Sedangkan usia tua, jenis kelamin dan riwayat penyakit jantung pada keluarga merupakan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi.

      Hapus
  3. Nama : Meura Stifilla Yolanda
    Nim : 10111001013
    Assalammualaikum,,
    Saya dari kelompok kanker payudara ingin bertanya pada kelompok PJK. yang ingin saya tanyakan adalah Pada pencegahan sekunder terdapat perawatan medis, tolong anda jelaskan perawatan medis yang bagaimana yang diberikan pada penderita PJK ?
    Serta tolong anda jelaskan bagaimana gejala umum seseorang terkena PJK ?
    Terima kasih,, :) :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam.. :)

      Perawatan medis pada penderita PJK biasanya dirawat di ICCU untuk dinerikan terapi obat-obatan oral (diminum) dan suntikan pembekuan darah. Di rumah sakit yang memiliki fasilitas canggih, penangan medis bila terjadi komplikasi mendadak diberikan terapi balon untuk membuka aliran darah yang tersumbat dengan segera, pemasangan cincin (Stent) dalam dinding arteri yang terkena (Proses ini disebut sebagai PTCA), dan bisa dengan cara operasi pintas koroner (CABG) untuk mengganti arteri yang tersumbat dengan pembuluh darah yang masih sehat dari tempat lain pada tubuhnya dengan pemberian obat kepada pasien selama masa hidupnya.

      Gejala umum yang sering ditemukan pada penderita PJK yaitu nyeri dada, keluhan mudah lelah bila melakukan pekerjaan sehari-hari yang bila tingkat keparahannya meningkat berubah menjadi sesak napas sewaktu melakukan aktivitas. Nyeri dada yang khas pada kasus yang mulai memberat bila proses aterosklerosis dalam arteri koroner jantung sudah menyebabkan penyempitan yang lebih dari 60% ukuran lumen (lubang) yang normal. Nyeri khas ini disebut sebagai angina pektosa yang timbul saat melakukan aktivitas, namun reda saat istirahat, timbul di dada bagian tengah dan kiri dan menjalar ke kerongkongan sehingga terasa seperti tercekik atau rasa kering. Bila intensitasnya makin berat, yaitu rasa nyeri terasa makin lama makin sering, timbul juga saat istirahat, keluar keringat dingin dan mendadak sesak napas, harus diwaspadai terjadinya serangan jantung mendadak atau infark jantung akut. Orang-orang yang mengalami gejala demikian harus segera dirujuk ke Rumah Sakit.

      Hapus
  4. Nama; Mutia Rahmi
    Nim : 10111001041
    aslmkm min,, mau numpang tanya min,,
    berkaitan dengan kejadian kematian presenter olahraga Ricky Jo yang diberitakan meninggal karena serangan jantung. bagaimana anda menganalisa kejadian ini berkaitan dengan PJK, karena sebelumnya Ricky Jo tidak mempunyai riwayat penyakit jantung dan dia termasuk orang yang rajin berolah raga.
    makasih mimin,, waslmkm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumussalam.wr.wb..

      Kami akan mencoba menjawab pertanyaan saudari mutia. Ricky Jo meninggal karena serangan jantung, padahal dikabarkan Ricky Jo tidak mempunyai riwayat penyakit jantung sebelumnya dan dia termasuk orang yang rajin berolah raga.
      Faktor resiko penyakit jantung bukan hanya 'kurang berolahraga' melainkan banyak faktor resiko lain yang dapat memicu terserangnya penyakit ini. Mungkin saja, Ricky Jo terkena penyakit ini karena faktor resiko lain, bisa karena sering mengkonsumsi makanan berkolesterol sehingga adanya endapan lemak pada dinding arteri koroner, yang terdiri dari kolesterol dan zat buangan lainnya. Kadar kolesterol tinggi bisa menyebabkan penyumbatan arteri dan jantung, atau beliau memiliki penyakit diabetes yang meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, terlebih bila kadar gula darah tidak dikontrol dengan baik. bisa juga karena stres akibat pekerjaan Ricky Jo yang terlalu sibuk sehingga dapat menimbulkan perangsangan saraf simpatis, Irama detak jantung tak teratur hingga menimbulkan gangguan pada jantung.
      Ricky Jo dikabarkan tidak mempunyai riwayat penyakit jantung sebelumnya, hal ini mungkin dikarenaka sebelumnya dia tidak pernah memeriksakan kesehatannya, atau tidak melakukan diagnosa dini sebelumnya. Karena, bukan hanya Ricky Jo tapi juga kebanyakan penderita PJK baru tahu bahwa ia menderita PJK setelah stadium lanjut bahkan langsung meninggal tanpa pernah didiagnosa terlebih dahulu.

      Demikian jawaban kami, mohon maaf jika ada kesalahan.
      Terimakasih, semoga bermanfaat :)

      Hapus
  5. assalamua'alaikum
    lam kenal, saya abdullah azzam, s (10111001063)
    numapang nanya ya admin yang cerdas.
    pengertian Pjk di atas menyinggung "Penyakit jantung koroner, hipertensi, hingga gagal jantung". saya ingin benar memahami nya satu persatu, tolong jelaskan ya admin ap saja perbedaan kasus di tiap penyakit di atas sehingga bisa digolongkan menjadi penyakit2 yang berbeda seperti di atas.
    Thx. tetap semangat! moga ilmu kita bermanfaat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam....
      Pertanyaan yang sangat bagus sekali...
      Penyakit jantung koroner, hipertensi dan gagal jantung memiliki pengertian sendiri-sendiri namun berkaitan. Perbedaan dari kasus ditiap penyakit tentu berbeda. Namun hipertensi lah yang menjadi dasar, maksudnya begini, hipertensi dapat menjdai faktor resiko kedalam penyakit jantung koroner dan gagal jantung.
      oke, saya akan memaparkan dulu pengertian dari penyakit jantung koroner...
      saya mengutip dari
      http://www.jantunghipertensi.com/berita/31-umum/25-jantung-mematikan.html
      bahwa jantung koroner adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh penyumbatan arteri koroner, sedangkan kita tahu arteri koroner merupakan pembuluh darah yang mensuplai jantung dengan darah. Arteri koroner itu lebih spesifiknya memberikan oksigen-oksigen yang terdapat di dalam darah ke otot – otot jantung yang terdapat di dinding jantung. Hal ini sangat perlu dipertahankan agar seseorang dapat bertahan hidup karena oksigen-oksigen ini akan digunakan untuk respirasi otot jantung agar jantung dapat terus memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Jika oksigen-oksigen ini tidak dapat disalurkan dengan baik ke otot-otot jantung, maka jantung akan menjadi lemah dan tidak dapat menyediakan darah ke seluruh bagian tubuh. Hasilnya, orang tersebut akan meninggal karena proses-proses biologis di dalam dirinya tidak dapat dilakukan karena organ-organ tubuh tidak mendapatkan nutrisi dan oksigen dari darah. itulah yang disebut dengan jantung koroner. hubungan antara suplay darah ke jantung yang terhambat pada bagian arteri koroner.

      Sedangkan hipertensi adalah kondisi dimana tekanan darah di arteri meningkat. Peningkatan ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah. Dan hal ini tentunya bila terjadi pada seseorang akan mengganggu akivitas keseimbangan kondisi dari jantung.Dan gagal jantung adalah suatu keadaan dimana jantung gagal memompakan darah yang memadai untuk metabolisme dalam tubuh yang tentunya apabila terus terjadi maka akan berakibat pada suplay darah ke bagian jantung melalui arteri, sehingga dapat berakibat arteriskelosis pada pembuluh arteri yang dapat berakhir pada penyakit jantung koroner.
      Jadi dari hipertensi bisa berakibat pjk dan gagal jantung, dan dari gagal jantungpun dapat berakibat ke pjk.Dan dari pengertian sudah dapat dilihat perbedaan anatara ketiganya....


      semoga dapat dipahami, dan bermanfaat....
      thnks...

      Hapus
  6. assalamualaikuum.
    saya Nurul Aini (10111001036)
    saya ingin bertanya pada pencegahan tersier anda mengatakan bahwa Pencegahan tersier adalah upaya pencegahan bagi penderita PJK agar tidak mengalami komplikasi lanjut atau kecacatan akibat PJK. yang saya ingin tanyakan adalah menurut analisa anada bagaimana PJK bisa mengakibatkan kecacatan pada penderitanya.
    terimakasih.
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam...

      Pertanyan yang sangat bagus sekali...
      menurut analisa saya, bagaimana pjk mengakibatkan kecacatan pada penderitanya adalah karena bersumber dari gangguan sirkulasi peredaran darah yang terjadi didalam tubuh yang bermula dari penyumbatan pada bagian arteri koroner menuju jantung. ketika bagian ini bermasalah maka pada tubuh kita terjadi gangguan yang dapat menggangu fungsi organ lain, yang dapat berakhir fatal yakni kecacatan, contohnya pada ginjal, hati dan tentunya pada jantung si penerita itu sendiri.
      Upaya pencegahan tersier dari penyakit jantung koroner agar tidak mengalami komplikasi lanjut atau kecacatan adalah dengan upaya dengan pemeriksaan secara berkala, karena upaya ini dapat meminimalisir dampak kecacatan bagi penderita, lalu diupayan dengan mengubah pola perilaku hidup kearah yang lebih sehat, seperti olahraga rutin dan menjada pola makan.

      thanks....

      Hapus
  7. assalamualaikum..
    saya putri intan eriska (10111001040)
    seperti yang anda tulis di blog ini tentang faktor resiko PJK yaitu kencing manis bisa meningkatkan resiko PJK. yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana proses terjadinya PJK karena kadar gula darah yang tinggi tersebut?
    satu lagi pertanyaannya apakah gejala PJK itu tampak jelas dari fisiknya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikumussalam..
      terimakasih untuk pertanyaannya..
      :)
      saya kutip dari
      http://www.saptabakti.ac.id/jo/index.php/jurnal/131-hubungan-diabetes-melitus-dengan-kejadian-penyakit-jantung-koroner-pada-pasien-di-poliklinik-jantung-rsud-dr-m-yunus-bengkulu-tahun-2010-nur-elly-septrianti

      Hubungan diabetes melitus dengan kejadian penyakit jantung koroner saling mempengaruhi, karena diabetes melitus mempunyai hubungan yang kuat dengan resiko terkena penyakit jantung koroner. hal ini diakibatkan karena penyakit diabetes melitus dapat mempercepat terjadinya aterosklerosis melalui iritasi pada dinding pembuluh darah sehingga memudahkan terjadinya endapan kolesterol, menurunkan kadar kolesterol “baik” (HDL) dan mempermudah terjadinya pembekuan darah yang dapat menyumbat pembuluh darah sehingga mengakibatkan serangan jantung.

      selanjutnya untuk gejala fisik penyakit jantung koroner tidak ada, gejalanya hanya bisa dirasakan oleh penderita saja.

      terimakasih, semoga bermanfaat
      ^^

      Hapus
    2. terima kasih atas jawabannya :)

      Hapus
  8. tri ardiana 10111001049

    ass, saya punya paman dan dia tidak mempunyai riwayat merokok apalagi hipertensi seumur hdupnya. tapi ketika dia meninggal, dokter memvonis kalo dia meninggal gara2 sakit jantung. nah bagaimana tanggapan anda mengenai hal ini?

    terimakasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam..
      terima kasih atas pertanyaannya, saya akan mencoba menjawab sebisa saya. seperti yang kami paparkan diatas, faktor risiko PJK tidak hanya karena merokok dan hipertensi tapi juga bisa karena sering mengkonsumsi makanan berkolesterol sehingga adanya endapan lemak pada dinding arteri koroner, yang terdiri dari kolesterol dan zat buangan lainnya. Kadar kolesterol tinggi bisa menyebabkan penyumbatan arteri dan jantung. atau beliau memiliki penyakit diabetes yang meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, terlebih bila kadar gula darah tidak dikontrol dengan baik.bisa juga karena stres yg dapat menimbulkan perangsangan saraf simpatis. Irama detak jantung tak teratur hingga menimbulkan gangguan pada jantung. lalu, dilihat dari postur tubuhnya, apakah dia obes atau tidak karena obesitas dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan diabetes. Orang yang kegemukan juga cenderung memiliki kadar HDL rendah/ LDL tinggi.atau mungkin juga karena gaya hidup yang buruk sehingga dapat berpengaruh terhadap penyakit jantung. Gaya hidup yang buruk ini seperti pola makan yang tidak teratur, sering mengkonsumsi fast food/junk food, dan kurangnya aktivitas fisik yang menyebabkan kerja jantung bertambah. dan yang terakhir mungkin karena kurang olahraga sehingga apabila kita kurang berolahraga jantung tidak akan sanggup menanggung kelebihan serta ketegangan yang diakibatkan oleh aktivitas diluar aktivitas normal kita.
      mungkin menurut saya, itu cukup membantu anda dan saya atas nama kelompok minta maaf atas kekurangannya. terima kasih :)

      Hapus
  9. Jesica Joana Khalim (10111001031)

    Saya ingin mengajukan pertanyaan untuk kelompok PJK
    Bagaimana mekanisme PJK menyerang orang dengan usia muda? Apa saja faktor resikonya?
    Trims :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih untuk pertanyaannya :)

      PJK juga menyerang orang dengan usia muda. Sebuah studi menemukan fakta yang membuktikan bahwa stres akibat banyak pekerjaan juga bisa menjadi faktor penyebab sakit jantung tanpa membedakan usia.
      Para karyawan yang memiliki beban kerja banyak, mereka dilaporkan 68% lebih cenderung menderita penyakit jantung koroner. Dibandingkan, dengan karyawan yang memiliki beban kerja dan tingkat stres lebih rendah. Pekerjaan yang "stresful" mempengaruhi secara langsung kondisi biologis tubuh seseorang.
      Intensitas tuntutan-tuntutan yang tinggi di tempat kerja juga menyebabkan orang merokok, makan tidak teratur dan minim aktivitas fisik yang semuanya itu terkait dengan meningkatnya risiko pada penyakit jantung. Dengan begitulah, pekerja di usia muda dapat terserang PJK.
      Selain stres di tempat kerja, faktor gaya hidup tidak seimbang seperti olahraga tidak teratur, merokok, kurang istirahat karena rutinitas padat, serta pola makan tidak sehat seperti banyak mengonsumsi gula tidak sesuai dengan porsi yang diharuskan dapat memicu serangan jantung di usia muda. Disamping unsur bawaan seperti riwayat keluarga, umur, jenis kelamin dan ras.
      Penyakit jantung ini terjadi ketika aliran darah ke suatu bagian otot jantung terhalang. Jika aliran darah tidak bisa diperbaiki dengan cepat, bagian dari jantung tersebut akan rusak karena kekurangan oksigen dan bisa mengakibatkan kematian pada seseorang walaupun di usia muda.

      Faktor resikonya seperti yang disebutkan diatas, yaitu:
      Hipertensi, Kolesterol, Merokok, Kencing Manis, Stres, Obesitas, Gaya hidup yang tidak sehat, dan kurang olahraga.

      Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat :)

      Hapus
  10. aslmkm kelompok pjk.. kami dari kelompok breast cancer ingin bertanya, Untuk mencegah penyakit jantung koroner dilakukan upaya pencegahan primer yaitu dengan pengaturan pola makan yang baik, perbanyak olahraga, berfikiran positif dan hindari stress, dan hindari kebiasaan minum minuman beralkohol. tolong dijelaskn pola makan yg seperti apa dan bagaiman mekanisme menghindri stress itu sehingg bisa mengurangi pjk
    Selain itu, pada pencegahan sekunder seperti diagnosis dini, pengobatan segera, & perawatan medis ,,nah pd ksus ini bgaimana saudari menjelaskn bila ksus pjk trjdi pd org yg krg mmpu bknkah tentunya ini akan sulit ? apa upaya yg bs kita lakukan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. wa'alaikumsalam wr. wb
      terima kasih atas pertanyaannya, saya akan berusaha untuk menjawab pertanyaan saudara. berdasarkan KMK No.854 tahun 2009 tentang pengendalian penyakit jantung, pengaturan pola makan itu seperti :
      a. Konsumsi makanan beraneka ragam
      Makan makanan beranekaragam sangat bermanfaat bagi kesehatan, karena tidak ada satu jenis makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan seseorang untuk tumbuh kembang menjadi sehat dan produktif. Dengan mengkonsumsi makanan beranekaragam termasuk sumber makanan berserat cukup (25gram/hari), seperti padi-padian, kacang-kacangan, sayur dan buah-buahan dapat mencegah atau memperkecil terjadinya penyakit degeneratif termasuk penyakit jantung dan pembuluh darah.
      b. Konsumsi makanan sesuai kebutuhan tubuh
      Makan makanan untuk memenuhi kecukupan gizi.konsumsi energi yang melebihi mengakibatkan kenaikan berat badan energi yang berlebih disimpan dalam bentuk lemak dan jaringan tubuh lain. Apabila keadaan ini berlanjut akan menyebabkan obesitas disertai berbagai gangguan kesehatan, seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung dan lain-lain.
      c. batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan gizi
      lemak dan minyak yang terdapat di dalam makanan berguna untuk meningkatkan jumlah energi, membantu penyerapan vitamin-vitamin A,D,E dan K serta menambah lezatnya hidangan.
      d. Konsumsi makanan rendah garam
      Dianjurkan untuk mengkonsumsi garam tidak lebih dari 6 jam (1 sendok teh) per hari. Konsumsi natrium yang berlebih terutama yang berasal dari garam dan sumber lain, seperti produk susu dan bahan makanan yang diawetkan dengan garam merupakan pemicu timbulnya penyakit tekanan darah tinggi yang merupakan risiko untuk penyakit jantung.
      Selain itu, hindari kebiasaan minum minuman beralkohol, karena minuman beralkohol dapat menghambat proses penyerapan zat gizi dan menghilangkan zat-zat gizi dari makanan yang dikonsumsi yang penting bagi tubuh, sehingga menyebabkan peminum alkohol dapat menderita kurang gizi. Selain itu juga menyebabkan penyakit gangguan hati, kerusakan syaraf otak dan jaringan dalam tubuh.[2]

      mekanisme mengurangi stres itu bisa saja dilakukan dengan selalu menganggap santai atas masalah apapun yang menimpa kita, jangan menjadikannya sebagai beban pikiran maksudnya jangan hanya dipikirkan saja namun tidak ada tindakan penyelesaian dari kita, bagi orang2 di sekitarnya kita beri tahu untuk tidak menceritakan hal-hal yang membuat dia terkejut, ajak dia bicara pelan2 dan sesantai mungkin dan lain-lain.

      pada pencegahan sekunder, diagnosis dini dapat kita lakukan dengan diri sendiri. karena yang saya ketahui ciri orang yang mengidap penyakit jantung itu nafasnya lebih ngos2an tanpa sebab, butir keringatnya besar (keringat jagung), selalu gemetaran tanpa sebab apapun dan lain-lain. dari ciri tersebut kita bisa melihat bahwa kemungkinan orang itu mengidap penyakit jantung, jika seperti itu si penderita disuruh untuk melakukan konsultasi dengan dokter dan jika memang ia, maka segera diberi pengobatan. namun jika memang orang tersebut tidak mampu, sekarang kan di Sumsel sudah ada yg namanya program berobat gratis nah kita dapat menggunakan fasilitas itu untuk mendapatkan pengobatan. kita juga sudah ada askes yg dapat digunakan untuk pengobatan. selain itu, kita juga bisa meminta surat keterangan miskin kepada pemerintah setempat untuk membantu biaya pengobatan di suatu pelayanan kesehatan. namun, selepas itu untuk kelancaran program tersebut, saya tidak bisa memastikannya karena itu diliuar kemampuan saya. ini hanya sekedar saran yg saya ketahui. saya sudah berusaha keras dalam menjawabnya, maaf jika anda merasa kurang jelas atas penjelasan saya. terima kasih (Niken Tri Gusti 10111001015)

      Hapus
  11. terimakasih banyak, sangat membantu sekali

    BalasHapus
  12. The goal is to reduce the risk of blood clots that can form when patients have an irregular heartbeat and make their way to other parts of the body. These clots can potentially lodge in small blood vessels within the brain, lungs and other structures. Initiation of this therapy will also include a risk assessment of overall bleeding potential,

    BalasHapus