Kumpulan literatur ilmiah mengenai penyakit-penyakit tidak menular yang dihimpun oleh Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya Angkatan 2011

25 Mar 2013

Diabetes




Oleh: Mariani Juliana (10111001010) Verra Anggani (10111001024)
Gita Yuni (10111001030) Afri Yanti (10111001048) Rugun Friskila (10111001062)
Dosen Epidemiologi: Najmah,SKM,MPH

Contact Person: verraanggani@yahoo.com


 
I. PENDAHULUAN
Terdapat 347 juta orang di seluruh dunia mengidap diabetes *. Yang tersebar di seluruh negara di belahan dunia. Pada tahun 2004, sebanyak 3,4 juta orang diperkirakan meninggal karena kadar gula darah yang tinggi. Lebih dari 80% kematian diabetes terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. WHO memperkirakan bahwa diabetes akan menjadi penyebab ketujuh utama kematian pada  2030. Bayangkan bila anda menjadi slah satu korban kematian akibat diabetes dimasa yang akan datang. Diet sehat dan aktivitas fisik yang secara teratur, akan menjaga berat badan normal dan menghindari penggunaan tembakau (rokok) dapat mencegah atau menunda timbulnya diabetes  tipe 2.[1]
Ditengah – tengah kegelisahan bangsa Indonesia untuk mengeliminasi penyakit menular kini penyakit tidak menular telah hadir dengan prevalensi yang cukup banyak wilayah perkotaan. Diabetes merupakan salah satu penyakit menuluran yang prevalensinya cukup tinggi akibat pola makan masyarakat yang tidak seimbang dan pola hidup yang tidak sehat. Secara epidemiologi, diperkirakan bahwa pada tahun 2030 prevalensi Diabetes Melitus (DM) di Indonesia mencapai 21,3 juta orang (Diabetes Care, 2004). Sedangkan hasil Riset kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu 14,7%. Dan daerah pedesaan, DM menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8%.[2]

                  Gambar1. Statistik Prevalensi Diabetes Melitus di Indonesia.[3]

 
II. DEFINISI KASUS
Diabetes adalah sebuah penyakit yang ditandai oleh ketidakmampuan untuk memproses gula dalam diet, karena penurunan atau tidak adanya total produksi insulin. Mungkin memerlukan suntikan insulin sebelum makan untuk membantu dalam metabolisme gula.[4] Asosiasi Diabetes Amerika mengatakan “ diabetes mellitus adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia akibat disfungsi pada sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya” .[5]
Definisi diabetes digunakan untuk estimasi: glukosa puasa > = 7,0 mmol / L atau obat-obatan. Menurut WHO diabetes merupakan  penyakit kronis yang terjadi baik ketika pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau ketika tubuh tidak menggunakan insulin yang dihasilkan secara efektif.[1]
Diabetes tipe 1 (sebelumnya dikenal sebagai insulin-dependent, remaja atau anak-anak) yang ditandai dengan kekurangan produksi insulin dan membutuhkan asupan harian insulin. Penyebab diabetes tipe 1 tidak diketahui dan tidak dapat dicegah dengan pengetahuan yang ada saat ini. Gejala termasuk ekskresi urin berlebihan (poliuria), rasa haus (polidipsia), kelaparan konstan, penurunan berat badan, perubahan visi dan kelelahan. Gejala-gejala ini dapat terjadi tiba-tiba. Diabetes tipe 2 (sebelumnya disebut non-insulin-dependent atau orang dewasa) hasil dari penggunaan efektif tubuh insulin. Diabetes tipe 2 terdiri dari 90% penderita diabetes di seluruh dunia, dan sebagian besar merupakan hasil dari kelebihan berat badan dan kurangnya aktivitas fisik. Gejala mungkin mirip dengan diabetes tipe 1, tetapi sering kurang kenali. Akibatnya, penyakit ini dapat didiagnosis beberapa tahun setelah onset, sekali komplikasi sudah muncul. Sampai saat ini, diabetes tipe ini terlihat hanya pada orang dewasa tetapi sekarang juga terjadi pada anak-anak.[1]

III.  FAKTOR RESIKO
 Terdapat beberapa fakor yang mempengaruhi kejadian diabetes.  Faktor yang tidak dapat di modifikasi diantaranya umur dan riwayat keluarga, sedangkan faktor yang dapat di modifikasi adalah berat badan (obesitas), pola makan, pola hidup, dan keadaan psikologi.[6]

                           Gambar 2. Faktor Resiko Diabetes
 
1.     Genetik ( riwayat keluarga), diabetes memiliki kaitan yang sangat erat dengan faktor keturunan. Jika orangtua anda terkena dibetes maka anda akan enam kali lebih beresiko dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki keturunan diabetes.
2.    Umur, diabetes tipe 1 kebanyakan penderitanya anak – anak sedangkan diabetes tipe 2 diderita oleh orang dewasa.
3.    Gaya Hidup, kebiasaan sehari – hari atau aktifita sehari – hari  berpengaruh terhadap kejadian dibetes kurangnya kesadaran berolahraga dan sering tidur malam dapat meningkatkan resiko terkena diabetes.[7]
4.    Pola Makan, konsumsi karbohidrat yang berlebihan membuat kerja hormone  semakin berat. Konsumsi karbohidrat yang berlebihan akan meningkatkan kadar gula darah.[8]
5.    Stress, bukan hanya dapat membuat keadaan psikologi yang tergangu namun dapat membuat keadaan fisik menjadi rendah. Sebuah penelitian mengatak bahwa orang yang memiliki tingkat stress yang tinggi memiliki resiko dua kali lipat dibandingkan denag yang tingkat stress psikologinya lebih rendah.
6.    Berat Badan ( Obesitas ), merupakan faktor resiko utama terkena diabetes. [6]

IV.   PENCEGAHAN PENYAKIT DIABETES       
Diabetes dapat dicegah dengan berbagai tindakan kearah pola hidup yang lebih sehat, ketika sudah menderita diabetes juga dapat dilakukan kegiatan yang dapat membantu mengurangi beban yang dialami. Berikut beberapa tindakan pencegahan penyakit diabetes.[9][10]
 
Pencegahan Primer: 


1.     Mengenali faktor resiko penyakit diabetes
2.    Mengecek kadar gula darah
3.    Olahraga secara teratur
4.    Pola makan sehari – hari harus seimbang tidak boleh berlebihan
5.    Tidur yang cukup
6.    Hindari stress
7.    Usahakan berat badan dalam batas normal

       Pencegahan Skunder:



1.       Deteksi dini bagi kelompok yang memiliki resiko tinggi
2.      Mengurangi konsumsi karbohidrat, namun tetap sesuai kecukupan gizi
3.      Mengganti gula khusus penderita diabetes
4.      Pantau gula darah harian secara teratur
5.      Konsumsi obat diabetes
6.      Hindari benturan yang dapat mengakibatkan cedera
7.      Diet sehat
8.      Olahraga teratur sesuai kemampuan dan usia
9.      Suntik insulin

Penceghan Tersier: 


 
1.     Mencegah terjadinya kebutaan
2.    Mencegah gagal ginal kronik
3.    Mencegah terjadinya stroke
4.    Mencegah teradinya gangrene bila terjadi luka

1. Risiko Penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2 di Kalangan Peminun Kopi di Kotamadya Palembang Tahun 2006-2007, R.M. Suryadi Tjekyan (2007).

 
Hasil penelitian kelompok non diabetes tipe 2 lebih banyak minum kopi murni dengan OR = 0.75 dapat disimpulkan kopi murni merupakan faktor proteksi diabetes tipe 2 Frekuensi, kekentalan kopi, jenis kopi, lamanya minum kopi yang tinggi merupakan faktor protektif terhadap DM tipe 2.[11]

2. Obesitas, Distribusi Lemak, dan Berat Badan sebagai Faktor Risiko Diabetes klinis pada Pria, Junem. Chan, Eric B. Rimm, Grahama. Colditz, dkk (1986) desain kohort, follow up selama 5thn.
Terdapat hubungan positif yang kuat antara obesitas, yang diukur dengan indeks massa tubuh (BMI) dan risiko diabetes. Pria dengan IMT 35 kg/m2 ^ memiliki RR multivariat dari 42,1 (95% confidence interval [CI] 22,0-80,6) dibandingkan dengan laki-laki dengan BMI <23,0 kg/m2. BMI pada usia 21 dan berat badan mutlak.[12]

3. Faktor Risiko Perilaku yang Berhubungan dengan Kadar Gula Darah pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Kabupaten Karanganyar, Rosita Purnama Dewi (2013) desain cross sectional.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor perilaku yang berhubungan dengan kadar gula darah adalah sikap olahraga (OR=6,2; 95%CI=1,3-29,9), sikap pengobatan (OR=6,7; 95%CI=1,4-32,2), praktik diet (OR=7,7; 95%CI=1,6-37,2), praktik olahraga (OR=7,7; 95%CI=1,6-37,2), dan praktik pengobatan (OR=9; 95%CI=1,8-43,1). Sedangkan pengetahuan diet (OR=4,9; 95%CI=0,5-41), pengetahuan olahraga (OR=4,4; 95%CI=0,5-37,1), pengetahuan pengobatan (OR=3,9; 95%CI=0,8-19,1) dan sikap diet (OR=3,6; 95%CI=0,7-17,7) tidak berhubungan dengan kadar gula darah. terdapat hubungan antara faktor risiko perilaku dengan kadar gula darah.[13]

 

LINK YOUTUBE








REFRENSI
10 Maret 2013
3. Tropicana Slim. 2012. Sahabat Diabetes. 
              http://sahabatdiabetes.com/diabetes-adalah pembunuh-nomer-3-di-indonesia/. 18 Maret 2013.
 
4. Farlex. “The Free Dictionary”. http://medical dictionary.thefreedictionary.com/diabetes.
18 Maret 2013.

5. American Diabetes Association. 2009. Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2613584/. 20 Maret 2013.

6. Adiningsih, RoroUtami. 2011. Faktor –Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian
Diabetes Mellitus Tipe 2 Pada Orang Dewasa di Kota Padang Panjang. Program Studi
Ilmu Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran. Universitas Andalas: Padang.

7. Rumah Diabetes Indonesia. 2012. Sering Tidur Malam Picu Diabetes dan Penyakit Jantung.
17 Februari 2013.
8. Beta Kulinet. 2009. Faktor Penyebab Diabetes Melitus.  
              17 Februari 2013.
9. Nursewian.  2012. Cara Mencegah Penyakit Diabetes.  
10. Penyakit Gula. 2013. Informasi yang Harus di Baca Oleh Penderit Penyakit Gula.
http://penyakitgula.org. 17 Februari 2013.
11. Tjekyan, R.M. Suryadi. 2007. Risiko Penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2 di Kalangan Peminum
Kopi di Kotamadya Palembang Tahun 2006-2007. Makara Kesehatan. Vol 11 No. 2,: 54
60. Department of Public Health and Community Medicine. Medical Faculty. Sriwijaya
University. Palembang 30126, Indonesia.
12. Eric B, Chan. Grahama, Rimm. Colditz, dkk. 1994. Obesitas, Distribusi Lemak, dan Berat Badan
sebagai Faktor Risiko Diabetes klinis pada Pria. Diabetes Care, Vol 17. No 9 : 961.
American Diabetes Assosiation. USA.
13. Dewi, Rosita Purnama. 2013. Faktor Risiko Perilaku yang Berhubungan dengan Kadar Gula
Darah pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Kabupaten Karanganyar.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 2. No 1. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas
21 Maret 2013.

 

20 komentar:

  1. Neni Yunita (10111001030)

    Apakah ada kasus ditemukannya diabetes tipe 2 pada anak-anak, dan diabetes tipe 1 pada orang dewasa, jika ada mengapa hal tersebut dapat terjadi ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimkasih pertanyaannya :)
      Pada kenyataannya diabetes tipe 1 dan 2 bisa menyerang usia berapapun. Namun, diabetes tipe 1 lebih banyak menyerang di usia muda dan tipe 2 di usia tua.
      sebelumnya kami akan menjelaskan perbedaan yang khas dari diabetes tipe 1 dan tipe 2:
      1. Penderita diabetes tipe 1 umumnya memiliki perawakan kurus, sedangkan diabetes tipe 2 lebih banyak menyerang orang-orang bertubuh besar yang dikategorikan kelebihan berat badan (overweight) maupun obesitas.
      2. Diabetes tipe 1 disebabkan oleh kerusakan pankreas sehingga produksi insulin berkurang, sementara tipe 2 disebabkan oleh resistensi insulin dalam arti insulinnya cukup tetapi tidak bekerja dengan baik dalam mengontrol kadar gula darah.

      Nah, diabetes tipe 1 bisa saja diderita oleh orang dewasa karena ini merupakan kelainan genetik yang dibawa sejak lahir namun karena gejala ini sulit dikenali maka pada usia dewasa ketika fungsi organ tubuhnya menurun baru akan menyadari bahwa terjadi sesuatu didalam tubuhnya
      Begitu juga dengan diabetes tipe 2, kami contohkan di indonesia yang merupakan salah satu masalah kesehatan balita atau anak - anak adalah gizi lebih. Obesitas merupakan salah satu faktor utama terjadinya diabetes.

      semoga bermanfaat ^_-

      Hapus
    2. thx tuk jwbnnya,,,
      yg saya mksd kasus DM diatas adalah kasus DM tipe 1,5 atau hybrid diabetes. mohon penjelasannya :)

      Hapus
    3. saya Herman Brawijaya, mncoba untuk bantu mnjawab jga..

      Ada...
      Diabetes tipe 1: umumny diderita oleh anak-anak, dimana kelenjar pankreas ny tidak berfungsi untuk menghasilkn hormon insulin atau bisa dikatakn mengalami kerusakan... disebabkn oleh faktor gen (dari ortu) sbg faktor terbesar..
      Diabetes tipe 2: dewasa n lansia, dimana kelenjar pankres menghasilkn hormon insulin dlm jumlah yg kurang mencukupi, mengalami gangguan... disebabkn oleh pola makan, salah satunya..

      trima ksih, mohon maaf jika ada kslahan...

      Hapus
    4. Terimakasih atas pnjelasannya tentang DM 1 n 2,,
      trus bagaimana dengan DM tipe 1,5 atau hybrid diabetes,,?

      Hapus
  2. dari : kelompok HIPERTENSI
    untuk klp DIABETES, kami mau bertanya kenapa obesitas itu mnjadi faktor esiko utama diabetes ? bukannya orang yang berat badannya ideal juga bisa terkena diabetes ? (tolong spesifik ya jwabannya) terimakasih~

    BalasHapus
  3. Terimakasih utuk pertanyaannya :)
    kami akan menjawab pertanyaan dari kelompok hipertensi terlabih dahulu

    secara teori ketika seseorang mengalami obesitas maka sel - sel tubuh tidak sensitif terhadap insulin.
    sel - sel lemak menyebabkan resistensi terhapad insulin.
    Kemudian menurut kami Jika asupan kalori per hari seseorang berlebihan, maka kalori yang tidak terpakai akan diubah menjadi lemak yang dapat menyebabkan seseorang menjadi kegemukan. Makan berkalori termasuklah yaitu karbohidrat. pada saat seseorang mengonsumsi makanan berkalori dapat dipastikan asupan kabohidrat ke dalam tubuh akan bertambah.
    karbohidrat di dalam tubuh akan diubah menjadi gula untuk dijadikan energi. Jika jumlah insulin yang dihasilkan pankreas tidak mencukupi untuk mengendalikan tingkat kadar gula di dalam tubuh, maka kelebihan gula tersebut akan menyebabkan kadar gula darah menjadi tinggi yang kita sebut diabetes.

    YA, benar sekali orang yang berat badanya ideal juga bisa terkena diabetes mungkin karena beberapa faktor resiko yang telah kami jelaskan diatas, yaitu seperti genetik, stress dll.

    semoga bermanfaat

    BalasHapus
  4. DESY INDAH PERMATASARI (10111001058)

    Izin bertanya,

    1. Menurut penelitian terkait pada no.1 di atas bahwa kopi merupakan faktor protektif terhadap DM tipe 2. Seperti yang kita ketahui bahwa kopi itu mengandung kafein. Nah, berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari berbagai sumber, kafein tersebut dapat meningkatkan kadar gula dalam darah.
    Yang akan saya tanyakan, bagaimana mungkin di satu sisi kopi dapat menjadi faktor protektif sedangkan di sisi lain kopi malah mememperparah kondisi Diabetes?
    Mohon pencerahannya. Terima Kasih. :)


    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Pertanyaannya bagus sekali ;

      Van Dam dkk (2004) menyatakan bahwa konsumsi kopi selama 2-4 minggu
      pada orang dewasa yang sehat dapat meningkatkan konsentrasi insulin puasa, yang mungkin mencerminkan menurunnya sensitivitas insulin6. Penelitian jangka pendek ini menunjukkan bahwa konsumsi kafein dalam waktu yang singkat (2-4 minggu) dapat menurunkan sensitivitas insulin hanya selama 100-180 menit.

      Kopi juga mengandung bahan lainnya seperti potassium,niacin, magnesium dan antioxidant seperti alfa tocopherol, asam fenol kolinergik dan bahan ini dapat meningkatkan resiko timbulnya diabetes
      melalui pengaruh sinergik metabolisme glucose dan resistensi insulin. didalam jurnal pada bagian pendahuluannya dikatakan para peneliti di dunia belum mengetahui benar kandungan kopi yang mana dapat mempengaruhi proses metabolisme gula secara rinci dan bagaimana cara kerjanya dalam melawan diabetes. Namun ketika para peneliti membandingkan para peminum kopi dengan risiko menderita penyakit diabetes tipe 2, ditemukan makin banyak seseorang minum kopi makin rendah risiko terserang penyakit diabetes.

      Begitu juga dengan hasil yang didapatkan oleh R.M. Suryadi Tjekyan mengenai RISIKO PENYAKIT DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI KALANGAN PEMINUM KOPI DI KOTAMADYA PALEMBANG TAHUN 2006-2007 hasil yang didapatkan Frekuensi, kekentalan kopi, jenis kopi, lamanya minum kopi yang tinggi merupakan faktor protektif terhadap DM tipe 2. yang senada dengan penelitian yang dilakukan oleh penelitian Ärnlöv, Wu dkk (2005) juga memperlihatkan hasil serupa, Konsumsi kopi dihubungkan dengan menurunnya perkembangan untuk terjadinya diabetes pada penelitian Wu dan penelitian cohort lainnya, yang dengan demikian menunjukkan bahwa konsumsi kopi dapat mencegah terjadinya kegagalan disfungsi sel β pankreas.

      semoga bermanfaat ^_-

      Hapus
  5. pertanyaan dari kelompok Osteoporosis :
    apakah ada gejala yang spesifik bagi penderita diabetes, sebelum kita mengetahui lebih pasti dengan pengecekan gula darah, bagaimanakah tanda-tanda tersebut? jelaskan ya teman..
    terimakasih ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih pertanyaannya ya

      gejala diabetes baik tipe 1 maupun tipe 2 sama yaitu terlalu sering haus atau lapar, ini disebabkan karena banyak glukosa yang terbuang melalui urin seshingga tubuh mengimpuls rasa haus atau lapar lebih dari biasanya, terlalu sering buang air kecil, pada umumnya batas wajar frekuensi buang air kecil dalam sehari 6-8 kali dalam sehari, berat badan turun, cepat lelah, penglihatan kabur, penyembuhan luka yang lambat, sering gatal-gatal pada kulit terutama pada bagian genital.

      semoga bermanfaat.
      :D

      Hapus
    2. siip.. thanks rugun ~(^_^)~

      Hapus
  6. assalamu'alaikum
    teman-teman saya mau bertanya nih... hehehe
    di masyarakat awam saya sering mendengar bahwa diabetes itu ada dua macam yakni diabetes kering dan diabetes basah... mohon di jelaskan secara medik sebenarnya apa yang di maksud keduanya dan perbedaan yang ada di keduanya...

    terima kasih
    #hamasah
    by: Sri Lestari(10111001021)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih kepada saudari sri lestari, kami kan mencoba menjawab pertanyaan anda

      Menurut mitos, ada dua jenis diabetes : kering dan basah. ”Jenis yang basah akan mengalami infeksi,luka dan pembusukan di kaki, dan akan berakhir dengan amputasi (pemotongan) kaki. Jenis yang kering lebih aman, tidak akan mengalami pembusukan kaki” . Penderita diabetes yang kadar gula darahnya terlalu tinggi untuk jangka waktu tertentu, bisa mengalami infeksi spontan di kaki atau bahkan di bagian lain tubuh. Jadi, luka dan pembusukan kaki pada penderita diabetes disebabkan oleh kadar gula darah yang terus-menerus tinggi, dan hal ini bisa terjadi pada semua penderita diabetes.

      Di dunia kedokteran tidak dikenal adanya istilah diabetes tipe basah dan diabetes tipe kering. Istilah ini biasanya tumbuh di masyarakat karena biasanya para penderita diabetes mellitus atau kencing manis tubuhnya lama kelamaan akan menjadi kurus kering, maka munculah istilah tersebut. Diabetes yang dikenal di dunia kedokteran adalah diabetes tipe I dan diabetes tipe II yang penjelasan dan gejalanya telah kami jelaskan diatas

      semoga bermanfaat ^_-

      Hapus
  7. Assalamualaikum..

    Nama: Siti Kurniatun
    NIM: 10111001033

    saya ingn bertanya kpd klpok diabetes, yg ingin saya tanyakan mengapa diabetes selalu dikatakan sebagai awal mula terjadinya berbagai penyakit? Trims.. ;)

    BalasHapus
  8. Assalamualaikum ceman - ceman, hehe
    Saya Muhammad Rizki ( 10111001014 )
    saya ingin bertanya seklian pngen tau about diabetes ni,

    katanya kan klo kita kena diabetes, penyembuhan luka akan lambat ?
    koq bisa begitu ya? apakah ada perubahan sistem krja tubuh kita ato gimana ya ?
    ditunggu ya sist.. ?^^

    BalasHapus
  9. saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari siti kurniatun

    Pancreas yang disebut kelenjar ludah perut, adalah kelenjar penghasil insulin yang terletak di belakang lambung. Di dalamnya terdapat kumpulan sel yang berbentuk seperti pulau pada peta, karena itu disebut pulau-pulau Langerhans yang berisi sel beta yang mengeluarkan hormone insulin yang sangt berperan dalam mengatur kadar glukosa darah.
    Insulin yang dikeluarkan oleh sel beta tadi dapat diibaratkan sebagai anak kunci yang dapat membuka pintu masuknya glukosa ke dalam sel, untuk kemudian di dalam sel glukosa tersebut dimetabolisasikan menjadi tenaga. Bila isulin tidak ada, maka glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel dengan akibat kadar glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalams sel dengan akibat kadar glukosa dalam darah meningkat. Keadaan inilah yang terjadi pada diabetes mellitus tipe 1.

    oleh karena itu bila kadar glukosa dalam sel darah meningkat,maka darah akan membawa glukosa tersebut ke jantung sehingga akan membawa bibit2 penyakit baru

    BalasHapus
  10. saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari rizky

    kita ambil contohnya pada kaki,karena pada penderita DM lebih sering menderita luka di kaki.
    sulitnya luka sembuh itu karena penyakit diabetes menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan jaringan syaraf , ini yang disebut komplikasi Nefrophaty Diabetes.

    Kerusakan syaraf disebabkan menurunnya aliran darah dan tingginya kadar gula darah. Hal ini menyebabkan pengeluaran keringat dan minyak untuk melumasi kaki terganggu. Penderita diabetes mengalami tidak normalnya tekanan pada kulit, tulang dan ujung jari kaki. Hal ini menyebabkan berkurangnya sensifitasnya untuk bisa merasakan tekanan atau sentuhan pada kaki.

    BalasHapus
  11. Terimakasih semua pertanyaannya teman - teman semoga semuanya dapat bermanfaat ya :)
    salam semakin kompak :D

    BalasHapus
  12. masih aktiv blog ini?

    BalasHapus