Kumpulan literatur ilmiah mengenai penyakit-penyakit tidak menular yang dihimpun oleh Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya Angkatan 2011

24 Mar 2013

Kecelakaan Lalu Lintas

 

Disusun oleh:
  1.      Aprida Ananda Siregar (10111001001)     
  2.    Muhammad Rizki (10111001014)            
  3.    Titin Elia Ningsih (10111001023)           
  4.    Nurul Aini (10111001036) 
  5.    Andi Julian (10111001055) 
  6.    Debby Yulia Sari (10111001056)
  7.    Hamida Yanti (10111001061)
  8.  
Contact Person :
Email   : rhiezki21@gmail.com
Twitter : @eckiye @debby_YS


Pendahuluan

         Kecelakaan lalu lintas telah diabaikan dari agenda kesehatan global selama bertahun-tahun, meskipun diprediksi dari sebagian besar factor resiko dapat dicegah. Bukti dari berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan yang signifikan dalam mencegah kecelakaan lalu lintas dicapai melalui upaya bersama melibatkan beberapa sektor, yang tidak terbatas pada sektor kesehatan saja. Di dunia, sekitar 1,24 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas yang menjadi penyebab utama kematian di kalangan anak muda, berusia 15-29 tahun. [1]
     Berdasarkan data POLRI, di Indonesia kecelakaan lalu lintas jalan tahun 2011 sebanyak 176.763 korban jiwa dengan rincian 31.185 meninggal dunia, 36.767 luka berat, 108.811 luka ringan serta menyebabkan kerugian sebanyak 86,09 milyar. [2]
      Namun sejak tahun 1993 perhatian dunia terhadap kecelakaan lalu lintas cukup besar, terlihat pada Hari Kesehatan Dunia 7 April 1993. WHO memberi perhatian khusus yang begitu besar dengan mengambil kecelakaan sebagai tema sentral : “Sayangi Hidup, Hindari Kelalaian, dan Kekerasan”. [3]





Definisi Kecelakaan Lalu Lintas


Kecelakaan adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak disangka-sangka dan tidak disengaja melibatkan kendaraan yang sedang bergerak dengan atau tanpa pengguna jalan lainnya, mengakibatkan korban manusia atau kerugian harta benda. [4]
Sedangkan menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu-lintas dan Angkutan Jalan menyebutkan bahwa kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau kerugian harta benda. [5]




FAKTOR RISIKO KECELAKAAN LALU LINTAS


Sumber: http://diliputnews.com/read/12955/jalan-jica-tak-kunjung-diaspal.html

Ada 5 faktor yg berkaitan dengan peristiwa KLL (Kecelakaan Lalu Lintas), yaitu faktor-faktor pengemudi, penumpang, pemakai jalan, kendaraan, dan fasilitas jalanan. Ditemukan konstribusi masing-masing faktor : manusia/pengemudi 75%, 5% faktor kendaraan, 5% kondisi jalan, 1% kondisi lingkungan dan faktor lainnya:
 
1. Faktor Manusia: pejalan kaki, penumpang sampai pengemudi.
    Faktor manusia menyangkut masalah disiplin berlalu lintas.
a. Faktor Pengemudi: Faktor pengemudi ditemukan memberikan kontribusi 75-80% terhadap KLL. Karakteristik pengemudi berkaitan dengan:
     (a)    Keterampilan pengemudi
     (b)   Gangguan kesehatan (mabuk, ngantuk, letih)
b.  SIM: tidak semua pengemudi punya SIM.
c.  Faktor Penumpang: misalnya jumlah muatan (baik penumpang atau barang) yang berlebih.
d.  Faktor Pemakai Jalan: pemakai jalan di Indonesia bukan saja terjadi dari kendaraan. Di sana ada pejalan kaki, pengendara sepeda, tempat pedagang kaki lima, peminta-minta dan sebagai sarana parkiran.

2.  Faktor Kendaraan
    Jenis-jenis kendaraan, berupa:
a.       Kendaraan tidak bermotor: Sepeda, becak, gerobak, delman.
b.      Kendaraan bermotor: Sepeda motor, roda tiga/bemo, oplet, sedan, bus, truk, gandengan.

Diantara jenis kendaraan, KLL paling sering pada kendaraan sepeda motor.


Sumber : http://ronymedia.wordpress.com/2011/06/07/kelok-sembilan-masuk-enam-jalan-raya-terunik-di-dunia/

3.  Faktor Jalanan: Keadaan fisik jalanan, rambu-rambu jalanan
a.       Kelayakan jalan: dilihat dari ketersediaan rambu-rambu lalu lintas.
b.      Sarana jalanan 
  • Panjang jalan yang tersedia dengan jumlah kendaraan yang tumpah diatasnya. Di kota-kota besar tampak kemacetan terjadi di mana-mana. Memancing terjadinya kecelakaan. Dan sebaliknya, jalan raya yang mulus memancing pengemudi untuk ‘balap’, juga memancing kecelakaan.
  • Keadaan fisik jalanan: pengerjaan jalanan atau jalan yang fisiknya kurang memadai, misalnya berlubang-lubang dapat menjadi pemacu terjadi kecelakaan
4.      Faktor Lingkungan: Cuaca dan geografik dapat diduga bahwa dengan adanya kabut, hujan, jalan licin.
Secara khusus faktor-faktor pengemudi yang pernah diteliti (oleh Boediharto dkk) adalah:
1.      Prilaku pengemudi ngebut, tidak disiplin/melanggar rambu.
2.      Kecakapan pengemudi: pengemudi baru/belum berpengalaman melalui jalanan/rute.
3.      Mengantuk pada waktu mengemudi.
4.      Mabuk pada waktu mengemudi.
5.      Umur pengemudi 20 tahun atau kurang.
6.      Umur pengemudi 55 tahun atau lebih. [6]



Pencegahan Kasus


1.   Primordial Prevention (Pencegahan tingkat awal) berupa:
Ø Pemantapan Status Kesehatan (Underlying Condition) misalnya: pelarangan orang sakit dalam mengendara.
2.    Primary Prevention (Pencegahan tingkat pertama), berupa:
Ø    Promosi kesehatan, misalnya: pendidikan dan penyebaran informasi mengenai lalu lintas.

Ø  Pencegahan Khusus, misalnya: perlindungan pengendara terhadap bahaya (memakai helmet, sarung tangan, dsb)

 
Sumber : http://dewey.petra.ac.id/jiunkpe_dg_20891.html


3.      Secondary Prevention (Pencegahan tingkat Kedua) berupa:
Ø     Diagnosis awal dan pengobatan tepat, misalnya: penjajakan kasus ( case finding ), dan pemberian       obat yang rational dan efektif pada pengendara yang mengalami kecelakaan.
Ø    Pembatasan Kecacatan (Disability Limitation) misalnya: pemasangan pin pada tungkai yang patah      pada anggota tubuh pengendara yang mengalami kecelakaan.
4.      Tertiary Prevention (Pencegahan tingkat Ketiga) berupa :
Rehabilitasi, misalnya: rehabilitasi cacat tubuh dengan pemberian alat bantu/protese pada pengendara yang kecelakaan (cacat). [7]




Penelitian


Jurnal 1

Judul Penelitian: Karakteristik Kecelakaan dan Audit Keselamatan Jalan pada Ruas Ahmad Yani Surabaya
Author : Amelia K. Indriastuti, Yessy Fauziah, Edy Priyanto
Metode penelitian :
1. analisis karakteristik kecelakaan lalu lintas
2. penentuan lokasi rawan kecelakaan, dengan parameter tingkat kecelakaan dan nilai EAN
3. audit keselamatan jalan pada lokasi rawan kecelakaan
Hasil penelitian:
1. Faktor penyebab kecelakaan yang dominan pada ruas jalan tersebut adalah faktor manusia (83%).
2. Kecelakaan paling sering terjadi pada Hari Senin (20%) pukul 06.00-11.59 (32%).
3. Tipe tabrakan yang dominan terjadi yaitu tabrak samping (43%).
4. Pengendara sepeda motor merupakan pengguna jalan yang sering terlibat dalam kecelakaan    (60%), hal ini karena populasinya yang lebih besar dibandingkan pengguna jalan lainnya.
5. Berdasarkan kondisi korban kecelakaan, urutan dari yang tertinggi adalah korban luka ringan (67%).
6. Beberapa upaya peningkatan keselamatan di lokasi rawan kecelakaan adalah dengan pembuatan fasilitas rumble strip mendekati area zebra cross, pemasangan pagar pengaman pada bahu jalan, pemasangan rambu batas kecepatan di beberapa lokasi khusus, pengecatan marka, serta penyeragaman lebar bahu. [8]


Jurnal 2

Judul Penelitian: Studi Kecelakaan Lalu Lintas dengan Metode 'Revealed Preference' di Kota Padang
Author: Wiwin Putri Zayu
Metode penelitian:
  1. Revealed preference.
  2. Mengidentifikasi kecelakaan lalu lintas yang dialami mahasiswa, menganalisa dan menentukan jenis kecelakaan dan sebab-sebab terjadinya kecelakaan serta menetapkan strategi keselamatan lalu lintas.
  3. Data yang terkumpul diolah dengan menggunakan uji statistik chi-kuadrat untuk mengetahui tingkat kecocokan data (goodness of fit) yang dianalisis.
  4. Kuisioner.
Hasil penelitian: 
  1. Kecelakaan banyak terjadi saat remaja berperan sebagai pengemudi kendaraan, dengan jenis kecelakaan menabrak kendaraan lain.
  2. Jika menjadi penumpang kendaraan umum/pedestrian jenis kecelakaan yang sering terjadi adalah ditabrak kendaraan.  
  3. Kecelakaan terbesar berasal dari sikap manusia yang lalai atau kurang konsentrasi saat mengendarai kendaraan, kemudian tidak tersedianya rambu/marka jalan dilokasi kecelakaan.
  4. Kecelakaan juga banyak terjadi pada jalan lurus yaitu 55.07%.
  5. Dari 207 orang responden, 90,34% mengalami luka ringan dan 9,66% mengalami luka berat, hal ini terjadi karena kesadaran responden untuk menggunakan proteksi sudah cukup tinggi yaitu 61,81%.
  6. Dari hasil uji Chi-kuadrat diperoleh kesamaan pola kecelakaan pada variabel tes kepemilikan SIM, kemudian peran saat kecelakaan, jenis perkerasan di lokasi kecelakaan yaitu perkerasan aspal dan fatalitas kecelakaan.
  7. Agar tingkat kecelakaan dapat dikurangi maka perlu dilakukan langkah-langkah seperti pembatasan kecepatan pada jalan lurus, peningkatan sarana dan prasarana jalan seperti ketersediaan rambu dan marka jalan, realisasi peraturan lalu lintas di jalan raya. [9]



Jurnal 3

Judul penelitian:  Biaya Kecelakaan Lalulintas Jalan Di Indonesia Dan Vietnam
Author: Gito Sugiyanto
Metode penelitian: Analisis karakteristik dan memperkirakan biaya kecelakaan jalan di Banyumas, Indonesia, dan di Vietnam.
Hasil penelitian:
  1. Biaya kecelakaan di Indonesia terdiri atas biaya langsung dan biaya tidak langsung, sedangkan biaya kecelakaan di Vietnam terdiri atas tangible cost dan intangible cost.
  2. Karakteristik kecelakaan jalan di Indonesia mirip dengan yang terjadi di Vietnam, dengan sebagian besar kecelakaan disebabkan oleh laki-laki.
  3. Biaya kecelakaan lalulintas jalan di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang terjadi di Vietnam. [10]

Sumber : http://dewey.petra.ac.id/jiunkpe_dg_20891.html




Kesimpulan
 
Kecelakaan lalu lintas menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar untuk para korban, keluarga mereka, dan negara. Kerugian timbul dari biaya pengobatan (rehabilitasi dan penyelidikan insiden) serta produktivitas berkurang/hilang (upah) untuk mereka yang tewas atau cacat, dan bagi anggota keluarga yang perlu mengambil waktu libur kerja (atau sekolah) untuk merawat yang terluka. [1]
Menurut WHO, ada perkiraan global  biaya cedera, namun perkiraan yang dilakukan pada tahun 2000 menunjukkan bahwa biaya ekonomi dari kecelakaan lalu lintas jalan adalah sekitar US$ 518.000.000.000. Perkiraan nasional telah diilustrasikan bahwa lalu lintas negara crash biaya antara 1-3% dari produk bruto nasional mereka, sementara dampak keuangan pada keluarga individu telah terbukti menghasilkan pinjaman keuangan meningkat dan utang, bahkan penurunan konsumsi makanan. [1]
Sebenarnya kecelakaan lalu lintas dapat dicegah. Pemerintah perlu mengambil tindakan untuk mengatasi keselamatan jalan secara holistik, yang memerlukan keterlibatan dari berbagai sektor (transportasi, polisi, kesehatan, pendidikan) dan yang membahas keamanan jalan, kendaraan, dan pengguna jalan sendiri. Intervensi yang efektif termasuk merancang infrastruktur lebih aman dan menggabungkan fitur keselamatan jalan dalam penggunaan lahan dan perencanaan transportasi, meningkatkan fitur keamanan dari kendaraan, dan meningkatkan pasca-kecelakaan merawat korban kecelakaan lalu lintas. Intervensi yang menargetkan perilaku pengguna jalan sama-sama penting, seperti pengaturan dan penegakan hukum yang berkaitan dengan faktor-faktor risiko utama, dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya dan kerugian yang disebabkan kecelakaan lalu lintas. [1]




Daftar Pustaka



[1]  WHO. 2013. Road Traffic Injuries. Geneva: WHO. Available at http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs358/en/. Accessed on Maret 13th, 2013.
[2] Dephub. 2012. Perhubungan Darat Dalam Angka. Jakarta: Dephub. Available at http://hubdat.dephub.go.id/data-a-informasi/pdda/tahun-2012. Accessed on Maret 20th, 2013.
[3]  Kodim Nasrin, Bantas Krisnawaty, et al. 2010. Himpunan Bahan Kuliah Penyakit Tidak Menular. Jakarta: FKM-UI.
[4] Ambarsari, Ferni Gustia. 2012. Penggunaan Citra Quickbird dan Sistem Informasi Geografis Untuk Analisis Daerah Rawan Kecelakaan Lalu Lintas di Kota Bandung. Bandung: UPI. Available at http://repository.upi.edu/operator/upload/s_geo_0705556_chapter2.pdf. Accessed on March 22 th, 2013.
[5] Adnan, Surma. 2010. Analisis Faktor-Faktor Penyebab Kecelakaan Lalu Lintas di Jalan Tol Jakarta-Cikampek. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Available at http://perpus.fkik.uinjkt.ac.id/file_digital/SURMA%20ADNAN.pdf. Accessed on March 21th, 2013.
[6] Bustan, M.N. 2007. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka Cipta.
[7] Bustan, M.N. 2006. Pengantar Epidemiologi. Bandung: Rineka Cipta.
[8] Indriastuti, Amelia K, dkk. 2011. Karakteristik Kecelakaan dan Audit Keselamatan Jalan pada Ruas Ahmad Yani Surabaya. Jurnal Rekayasa Sipil Volume 5, 1-11.
[9] Zayu, Wiwin Putri. 2012. Studi Kecelakaan Lalu Lintas dengan Metode 'Revealed Preference' di Kota Padang, 1-17.
[10]Sugiyanto, Gito., 2010. Biaya Kecelakaan Lalulintas Jalan Di Indonesia Dan     Vietnam. Jurnal Transportasi Vol. 10, 135-148.




Video Terkait Kecelakaan Lalu Lintas :







Untuk keterangan lebih lanjut, teman-teman sekalian bisa download Link dibawah ini :)

Download

37 komentar:

  1. Nice posting kawan-kawan, eh bgi kawan kawan jga lupa kunjungi blog ane juga ye ^^

    BalasHapus
  2. PERTANYAAN:
    MARETALINIA (10111001010)

    Aslm. Sebagaimana yang kelompok anda presentasikan tadi, bahwa salah satu penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas adalah dikeluarkannya SIM TEMBAK. Menurut pendapat saya dan berdasarkan fakta yang ada bahwa SIM TEMBAK dikeluarkan atas saran polisi-polisi nakal, sedangkan seharusnya polisi memberlakukan aturan yang benar sebagai upaya mencegah kecelakaan lalu lintas. Apa langkah yang seharusnya diambil pemerintah dalam mengatasi hal tersebut? Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih. ^_^ Waslm.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikumsalam Wr.WB.
      saya mewakili kelompok Kecelakaan lalu lintas, dan akan menjawab pertanyaan dari saudari maretalinia : memang benar, salah satu faktor resiko terjadinya kecelakaan lalu lintas adalah pembuatan SIM tembak, mengapa begitu ? karena dalam praktik pembuatan SIM tembak oleh polisi nakal, kita hanya membayar lebih kurang 400 ribu untuk pembuatan SIM C (motor), maka kita sudah mendapatkan SIM dengan tidak memandang apakah kita sudah bisa mengendarai motor dengan baik atau tidak dan apakah kita sudah tahu praturan rambu-rambu lalu lintas atau tidak.
      dan langkah-langkah yang diambil pemerintah dalam mengatasi hal ini adalah : dimana pada saat ini untuk mencegah terjadi praktek SIM tembak atau praktek percaloan SIM petugas polri pada saat ini telah mengerahkan petugas dari devisi profesi dan pengamanan (PROPAM) untuk menindak mereka yang terbukti melakukan praktik percaloan SIM/SIM tembak. Dan usaha pemerintah lainnya adalah adanya program SIM keliling dan perpanjangan STNK berjalan, maka dari itu praktek percaloan SIM akan dapat dihindarkan.

      Hapus
    2. good answer friends...
      jika anda sebagai pemerintah tuh, gimana ngatasin polisi yang tidak bertanggung jawab seperti itu? karena biasanya polisinya yang nawarin supaya dibuatin SIM tembak.. ^^

      Ditunggu jawabannya lagi..

      Hapus
    3. Saya akan mewakili kelompok kami untuk menjawab pertanyaan dari Mareta
      Seperti yang kita ketahui bahwa pembuatan sim tembak ( sim tanpa pakai test dan ujian) bukan hal yang baru, bahkan kondisi tersebut sudah membudaya. Mungkin untuk mengatasi hal tersebut sebagai pemerintah kita perlu mengubah beberapa sistem atau cara pembuatan sim, seperti; Mengubah sistem pembayarannya, jadi untuk membuat sim, tidak boleh tunai lagi, harus melalui transfer bank, karena sering kita dapatkan bahwa untuk pembuatan sim tembak harus menyogok (biaya pembuatan sim sangat tinggi),dan Perpanjangan sim harus mengikuti test yang sama seperti pembuatan sim baru.
      Terimakasih,..

      Hapus
    4. oke, saya juga akan menambahkan sedikit dari jawaban rekan saya yang diatas,

      Wiss, seru nih topic nya sista, hehe
      yupz, moga aja ya q jadi pemerintah ntar, hahha
      nah, gini lo sis, sesuai dengan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2010 Tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Kepolisian, di Pasal 1 Ayat 1, yang berbunyi :

      “Kepolisian Negara Republik Indonesia yang selanjutnya disingkat Polri
      adalah alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan
      ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan,
      pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya
      keamanan dalam negeri”
      jadi kalau seandainya terjadi hal yang demikian berarti polisi yang itu tu tidak menjalan kan amanat yang sesuai tercantum dalam Pasal 1 ayat 1, yang mana disebutkan memelihara keamanan, ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarkat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.
      So, gimana sih cara ngatasin nya? Nah, klo saya yang jadi pemerintah nya, cieee, hahhaa,
      sebagaimana yang kita ketahui bersama tentunya polisi itu lebih tau hukum tapi mengapa mereka masih melakukan pelanggaran hukum seperti itu,
      jadi, klo polisi yang terbukti melakukan pelanggaran hukum seperti itu dilakukan atau diberi sanksi berat yakni berupa pencopotan jabatan dari kepolisian RI, dikarenakan dia tidak bisa menjalankan amanah yang tepat, seperti yang kita ketahui dia sebagai penegak hukum malah melakukan praktek KKN.

      Hapus
    5. wuih...setuju banget sama jawaban ningsi ama rizki. Jadi kalo saya simpulkan, perlu intervensi dari berbagai pihak untuk mengatasi kecelakaan lalu lintas. Yaitu intervensi masyarakat, kepolisian dan pemerintah. iyaa gk bro n sist? hehehe
      Jika semua pihak punya tujuan yang sama untuk mencegah kecelakaan lalu lintas tanpa ada tujuan lain untuk mendapat tambahan uang dsb tentu angka kecelakaan lalu lintas dapat diturunkan.
      Saran jg deeeh...sekalian nambahin. hehe orang tua juga jangan membiarkan anaknya yang masih kecil untuk mengendarai sepeda motor, sering tuuh kita lihat anak-anak SD udah pinter kebut-kebutan di jalan raya, kalo kondisinya gini saya sering bertanya: mana orang tua si anak? tega bener membiarkan anaknya nyawanya terancam...hiks hiks
      soo...semua pihak harus 1 tujuan.
      semoga calon-calon pihak kepolisian dan pemerintah seperti kita-kita (Aamiin ^^) punya tujuan mulia itu...AAMIIN

      Thank you very much for your answers bro n sist :)

      Hapus
    6. hahaha,
      Amin.. AMinnnn :)
      tengkyu sista :)
      n mksih atas tambahan nya sist ^^

      Hapus
  3. DESRI PURWANTI 10111001025

    Pertanyaan : Karena yang sdh anda jelaskan dan telah saya baca penjelasan diatas saya tidak menemukan pembahasan mengenai kecelakaan lalu lintas yang terjadi di negara maju seperti Amerika dan negara di Eropa lainnya. Berkaitan persentase kecelakaan lalu lintas yang terjadi, apakah kecelakaan lalu lintas yang terjadi di negara maju lebih sedikit atau malah lebih banyak dibandingkan Indonesia, dan tolong dijelaskan apakah faktor resiko kecelakaan lalulintas yang terjadi di negara maju sama dengan faktor resiko yang tterjadi di Indonesia.
    selanjutnya pertanyaan pendukung :D saya masih bingung apakah kecelakaan pesawat, keretaapi dan kapal laut itu juga merupakan kecelakaan lalu lintas, jika iya kenapa anda tidak menyebutkannya :) hihihi terima kasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya akan mewakili kelompok saya untuk mencoba menjawab pertanyaan desri.

      sebelumnya saya ingin meminta maaf atas kreidakadaannya penjelasan tentang kecelakaan di negara maju karena keterbatasan kelompok kami.

      menurut laporan lalu lintas WHO kecelakaan membunuh lebih dari 1,2 juta orang per tahun, 90% dari kecelakaan tersebut terjadi di negara-negara yang memiliki pendapatan rendah atau menengah (negara berkembang dan negara miskin). Secara global, lebih dari separuh dari total kecelakaan yang terjadi dengan driver antara usia 15 dan 44 tahun, dan pengandar di lebih dari 73% dari kasus laki-laki. sedangkan untuk di Negara AS sendiri sekitar 70 hingga 80 orang mati setiap hari karena kecelakaan yang berhubungan dengan alkohol.

      dan berkaitan dengan faktor resiko KLL yang terjadi sama saja. dan menurut beberapa penelitian seperti yang saya sampaikan kemarin, faktor manusia menjadi penyebab KLL terbanyak.

      dan untuk menjawab pertanyaan pendukun dari desry akan di jawab oleh teman kelompok sya yang lain.

      semoga pertanyaan desry terjawab dengan penjelasan saya terimakasih. :)

      Hapus
    2. terimakasih untuk jawabannya :) saya masih menunggu untuk jawaban pendukungnya :D

      Hapus
    3. Baiklah saya akan memberikan sedikit pencerahan,
      saya Muhammad Rizki masih dari kelompok Kecelakaan lalu lintas, hehhe

      menyambung jawaban dari saudari nui dan untuk mnjwab pertanyaan anda desry purwanti,

      begini lo, secara garis besar Kecelakaan lalu lintas (KLL) dapat terjadi di darat (KLL darat), di laut (KLL Laut), dan di udara (KLL Udara),
      jadi kecelakaan pesawat, kereta api,dan kapal laut, itu masih merupakan kecelakaan lalu lintas :)
      dan kenapa kami tidak menyebutkan,dengan alasan dan juga dikarena ==> Kecelakaan lalu lintas darat lebih tinggi dibandingkan KLL laut dan KLL udara.
      walaupun masalah lalu lintas dilaut dan udara tidak kalah menariknya :)

      Sumber : Bustan, DR, M.N.2007.Epidemiologi Penyakit Tidak Menular.Jakarta:Rineka Cipta.

      Hapus
  4. Selly Francilia (10111001020)
    Aslmkm. Teman2 saya ingin bertanya, saya masih bingung dengan judul yang kelompok anda bahas terkait epidemiologi penyakit tidak menular ini. Seperti yang kita ketahui, kecelakaan lalu lintas merupakan kejadian yang terjadi karena kesengajaan atau kelalaian yang melibatkan kendaraan yang mengakibatkan korban manusia atau kerugian harta. Nah, bagaimana suatu kecelakan lalu lintas dapat dikatakan sebagai epidemiologi penyakit tidak menular, padahal kecelakan bukan merupakan suatu penyakit dan mengapa dapat menjadi epidemiologi tolong anda jelaskan dan berikan contoh epidemiologi kecelakan lalu lintas tersebut? Trima kasiiih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikm salam
      baiklah,, saya dari kelompok KKl akan mencoba menjawab pertanyaan dari saudari selly,,
      seperti yang kita ketahui bahwa epidemiologi itu mencakup segala sesuatu yang terjadi pada masyarakat yang mana ditekan kan kejadian tersebut dapat menyebabkan kerugian bahkan kematian pada masyarakat itu sendiri. nah kecelakaan lalu lintas itu sendiri kan bisa menyebabkan kerugian bahkan kematian pada masyarakat. dan juga Penularanny tidak melalui rantai penularan tertentu, sehingga Sulit untuk didiagnosa apa penyebab dari kecelakaan tsb serta, Biaya untuk pencegahan maupun pengobatannya cukup tinggi. contoh epidemiologi kecelakaan lalu lintas itu misalnya pada daerah yang tikungan tajam biasanya menjadi tempat yang sangat sering terjadi kecelakaan lalulintas,,,, sekian dari sayaaa,,,, kalo ada tambahn dari anggota kelompok yang lain dipersilahkannn,,,
      terimakasihhh

      Hapus
    2. terima ksih atas jawabannya :D
      adakah penjelasan yang lebih spesifik mengapa kecelakaan lalu lintas disebut sebagai penyakit tidak menular dan mengapa diatas anda menyebutkan penularannya tidak melaui rantai penularan tertentu. apa maksudnya? trima kasiih ceman :D

      Hapus
    3. nah, baiklah untuk menjawab pertanyaan lanjutan dari saudri selly Jonzu, hehehe,
      sedikit me-review perbedaan antara EPM dan EP