Kumpulan literatur ilmiah mengenai penyakit-penyakit tidak menular yang dihimpun oleh Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya Angkatan 2011

26 Mar 2013

OBESITAS


Anggota Kelompok:
1.     AYU NOVITRIE                          (10111001054)
2.     BRIYAN PRAMUDITYO               (10111001043)
3.     DEDE SUHARTATI                      (10111001002)
4.     DESY INDAH PERMATASARI       (10111001058)
5.     FITHROH AMALIYAH PUTRI       (10111001028)
6.     MAHARANI                                (10111001009)
7.     TRI ARDIANA                             (10111001049)
*note: contact person for more info >> faputrii@ymail.com

Mind Map:



can't access the mind map? try to reload the page or click here to download the jpeg vesion!


P E N D A H U L U A N


          Latar Belakang

Masalah obesitas dan gizi lebih tidak hanya terjadi di negara yang sudah maju, tetapi mulai meningkat prevalensinya di negara berkembang. Menurut WHO, Pada tahun 1995, ada sekitar 200 juta orang dewasa gemuk di seluruh dunia dan lain 18 juta balita diklasifikasikan sebagai kelebihan berat badan. Pada tahun 2000, jumlah orang dewasa obesitas telah meningkat menjadi lebih dari 300 juta. Bertentangan dengan kebijaksanaan konvensional, epidemi obesitas tidak terbatas pada masyarakat industri, di negara-negara berkembang, diperkirakan bahwa lebih dari 115 juta orang menderita obesitasHasil penelitian survei Indeks Massa Tubuh (IMT) di 12 Kota di Indonesia tahun 1995 mendapatkan prevalensi gizi lebih sebesar 10,3% dan prevalensi obesitas sebesar 12,2% Prevalensi gizi lebih ini mengalami peningkatan pada tahun 1999 sebesar 14% dan tahun 2000 sebesar 17,4%.1


Fenomena gizi lebih merupakan ancaman yang serius karena terjadi di berbagai strata ekonomi, pendidikan, desa-kota, dan lain sebagainya. Hal ini diketahui berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, 14% Balita termasuk gizi lebih, dimana besarannya hampir sama dengan Balita kurus. Pada kelompok usia diatas 15 tahun prevalensi obesitas sudah mencapai 19.1%. Analisis lebih lanjut menunjukkan tidak terdapat perbedaan prevalensi Balita gizi lebih pada keluarga yang termiskin (13.7%) dengan keluarga terkaya (14.0%). Demikian pula tidak terdapat perbedaan menurut kelompok umur anak, jenis kelamin, pendidikan orang tua.2

Ada kecenderungan bahwa prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas meningkat di Indonesia dalam dekade terakhir. Kegemukan dan obesitas telah terbukti meningkatkan risiko beberapa penyakit degeneratif, termasuk diabetes melitus, penyakit jantung, hipertensi dan stroke, dan beberapa jenis kanker. Konsekuensi kesehatan berkisar dari peningkatan risiko kematian dini untuk kondisi kronis serius yang mengurangi kualitas hidup secara keseluruhan.3

Dengan menggunakan data dari survei kesehatan rumah tangga (SKRT), analisis data dari 20,137 orang dewasa dilakukan, terdiri dari 9,390 pria dan wanita dari 10,747 daerah perkotaan dan pedesaan. Studi ini menemukan bahwa prevalensi kelebihan berat badan adalah 7,2% di antara laki-laki dan 10,4% di kalangan perempuan. Prevalensi kelebihan berat badan lebih tinggi di perkotaan (10,8%) daripada di perdesaan (7,5%). Prevalensi obesitas pada wanita lebih dari dua kali (13,3%) dibandingkan dengan pria (5,3%), lebih tinggi di daerah perkotaan (12,8%) dibandingkan daerah perdesaan (7,1%). Puncak kelebihan berat badan dan obesitas yang ditemukan pada rentang usia 45 - 49 tahun. Sebagai kesimpulan, prevalensi overweight dan obesitas lebih tinggi di kedua aspek, pada wanita dibandingkan pria, dan di daerah perkotaan daripada di daerah pedesaan. Prevalensi tinggi ditemukan pada usia 45-49 tahun.4


P E M B A H A S A N

          Definisi Kasus

Overweight and obesity are defined as abnormal or excessive fat accumulation that presents a risk to health.”
      WHO

   Menurut World Health Organization (WHO), obesitas didefenisikan sebagai kumpulan lemak berlebih yang dapat mengganggu kesehatan dengan Body Mass Index (BMI) ≥ 30 kg/m2.

   Dalam wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, obesitas diartikan sebagai kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan.6

    Menurut Kusumawardhani, obesitas adalah kondisi berlebihnya jaringan lemak akibat tidak seimbangnya masukan energi dengan pemakaian. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), obesitas merupakan Indeks Massa Tubuh (IMT) anak yang berada diatas persentil ke-95 pada grafik tumbuh kembang anak sesuai dengan jenis kelaminnya. Sementara itu Center for Disease Control (CDC) AS mendefinisikan obesitas sebagai kelebihan berat badan diatas persentil ke-95 dengan proporsi lemak tubuh yang lebih besar dibandingkan komponen lainnya.7

         Faktor Resiko

         Faktor Genetik
Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik memberikan pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang.8
         Kerusakan pada salah satu bagian otak
Sistem pengontrol yang mengatur perilaku makan terletak pada suatu bagian otak yangdisebut hipotalamus. Bila seseorang mengalami kerusakan otak yang terjadi pada bagian hipotalamus ventromedial (HVM) maka seseorang akan menjadi rakus dan kegemukan atau obesitas.9
         Pola makan berlebih
Pola makan berlebih ini membuat energi yang masuk ke tubuh tidak sesuai dengan energi yang dikeluarkan yang mengakibatkan energi yang lebih itu tertimbun didalam tubuh sehingga seseorang mengalami obesitas.9
         Kurang olahraga
Kurangnya olahraga membuat energi yang masuk ke dalam tubuh tidak sesuai dengan energi yang dikeluarkan sehingga menyebabkan berlebihnya energi dan energi yang lebih tersebut tertimbun didalam tubuh.9
         Pengaruh emosional
Sebuah pandangan populer adalah bahwa obesitas bermula dari masalah emosional yang tidak teratasi.9
         Faktor Ekonomi
Seseorang yang cenderung ekonomi atas cenderung mengonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang.9
         Menyalakan Air Conditioner (AC)
Dikutip dari My Health News Daily, saat tinggal terus menerus di suhu yang nyaman, tubuh tidak perlu bekerja untuk mendinginkan atau menghangatkan tubuh.10
         Kurang tidur
Kurang tidur bisa menambah rasa lapar. Selain itu juga membuat aktivitas fisik pun berkurang. Ketidakaktifan fisik bisa memicu berat badan naik lebih cepat.10
         Polusi
Menurut hasil studi yang dilansir Critical Reviews in Food Science and Nutrition, polusi bisa memengaruhi metabolisme tubuh. Begitu juga dengan zat yang terdapat dalam pestisida. Zat-zat ini mengganggu sistem kinerja tubuh dan menghambat metabolism.10
         Konsumsi makanan cepat saji (fast food)
Makanan fast food menyebabkan obesitas karena makanan fast food ini banyak mengandung lemak dan karbohidrat yang berlebih.10

         Pencegahan


Ø  Pencegahan Primer11
  1. Promosi kesehatan
  2. Peningkatan pengetahuan tentang obesitas
  3. Modifikasi pola hidup dan perilaku
  4. Perbanyak aktivitas fisik
  5. Pengaturan nutrisi dan pola makan
 Ø  Pencegahan Sekunder12
  1. Pengaturan diet yang baik
  2. Pemberian obat anti obesitas
  3. Modifikasi perilaku
Ø  Pencegahan Tersier12
  1. Melakukan pemeriksaan secara berkala
  2. Melakukan pengendalian dengan cara psikoterapi
  3. Mencegah terjadinya penyakit akibat diabetes

        Penelitian Terkait

PENGARUH KOMPOSISI ASUPAN MAKAN TERHADAP KOMPONEN
SINDROM METABOLIK PADA REMAJA

Tujuan Penelitian :
Penelitian dengan metoda survey epidemiologi kasus control ini bertujuan untuk  mengetahui hubungan antara asupan makanan dengan komponen sindrom metabolik.

Metode Penelitian :
Penelitian Observasional dengan pendekatan Crosssectional Study pada semua remaja SMP, SMA di kota Malang berdasarkan kriteria penelitian IDF dengan menggunakan kriteria lingkar pinggang, kadar trigliserida dan kadar HDL.

Hasil Penelitian :

  • Asupan makan menjadi salah satu faktor penentu terjadinya obesitas yang selanjutnya dapat berubah menjadi SM. Asupan makan dengan jumlah berlebih yang potensial menimbulkan obesitas adalah lemak dan karbohidrat, karena keduanya apabila berlebih dari jumlah yang dibutuhkan akan disimpan didalam tubuh dalam sel-sel lemak. Kondisi ini apabila terus berlangsung tanpa diimbangi dengan pengeluaran energi yang sesuai akan mengakibatkan terjadi obesitas yang selanjutnya akan berdampak terjadi peningkatan resiko penyakit kardiovaskuler.
  • Meningkatnya angka kejadian SM (Syndrom Metabolik) terjadi akibat peningkatan kasus obesitas.13
   
HUBUNGAN OBESITAS DENGAN RISIKO OBSTRUCTIVE SLEEP
APNEA (OSA) PADA REMAJA

Metode Penelitian :
Desain penelitian Kuantitatif dengan pendekatan Crosssectional dan cara pengambilan sampel menggunakan rancangan Random. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi yang duduk di bangku kelas 1 dan 2 SMAN 1 Purwokerto tahun 2010.

Hasil Penelitian :
Terdapat hubungan yang signifikan antara obesitas pada remaja di SMAN 1 Purwokerto dengan risiko Obstructive Sleep Apnea (OSA) atau berhentinya nafas saat tidur. Semakin besar nilai IMT atau berat badan bertambah maka kemungkinan untuk mengalami OSA semakin tinggi.14

KORELASI ANTARA OBESITAS SENTRAL DENGAN ADIPONEKTIN PADA LANSIA DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER

Metode Penelitian :

  • Penelitian ini adalah merupakan studi potong lintang analitik pada pasien usia lanjut dengan penyakit jantung koroner di ruang rawat jalan dan inap Rumah Sakit Sanglah Denpasar.
  • Subyek penelitian didiagnosis sebagai PJK termasuk didalamnya angina stabil, angina tidak stabil, dan infark miokard akut berumur > 60 tahun.
  • Semua subyek berumur antara 60 - 74 tahun dengan nilai rerata 63,73 ± 3,74 tahun. Subyek terdiri dari 35 laki-laki, 10 wanita dengan 23 angina pektoris tidak stabil, 14 infark miokard akut, dan 8 angina pektoris stabil.

Hasil Penelitian :
Prevalensi obesitas sentral pada penderita PJK usia lanjut sangat tinggi. Obesitas sentral berhubungan dengan kadar adiponektin yang merupakan faktor kardioprotektif. Perbedaan kadar adiponektin darah dapat juga menunjukan berat ringannya manisfestasi PJK yang didapat. Makin tinggi tingkat obesitas sentral akan menurunkan kadar adiponektin dalam darah dan memperberat manifestasi PJK yang muncul pada pasien tersebut.15


           Link Youtube




         Daftar Pustaka
  1. World Health Organization. 2003. Controlling The Global Obesity Epidemic. Available at: http://www.who.int/nutrition/topics/obesity/en/ accessed on March, 21st 2013
  2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2007. Laporan Nasional Riskesdas 2007. Available at: http://www.litbang.depkes.go.id/bl_riskesdas2007/ accessed on March, 21st 2013
  3. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Awas, Kelebihan Gizi Bahaya . Available at: http://www.depkes.go.id/downloads/advertorial/adv_gizi_awas_kelebihan_gizi_bahaya accessed on March, 21st 2013
  4. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2010. Laporan Nasional Riskesdas 2010. Available at: http://www.litbang.depkes.go.id/sites/download/buku_laporan/lapnas_riskesdas2010/Laporan_riskesdas_2010.pdf accessed on March, 21st 2013
  5. World Health Organization. 2013. Obesity. Available at: http://www.who.int/topics/obesity/en/ accessed on March, 15th 2013
  6. Wikipedia Ensiklopedia Bebas. 2013. Obesitas. Available at: http://id.wikipedia.org/wiki/Obesitas accessed on March, 15th 2013
  7. Nurvita, Ely. 2009. Obesitas. Kesehatan Masyarakat. Available at:  http://ely-bidan.blogspot.com/2009/05/obesitas.html accessed on March, 15th 2013
  8. Wikipedia Ensiklopedia Bebas. 2013. Penyebab Obesitas. Available at: http://id.wikipedia.org/wiki/Obesitas#Penyebab_Obesitas accessed on March, 8th 2013.
  9. Mu’tadin, Zainun. 2002. Obesitas dan Faktor Penyebab. Available at: http://www.scribd.com/doc/4444732/Obesitas-dan-Faktor-Penyebab accessed on March, 8th 2013.
  10. Hestianingsih. 2012. 5 Faktor Penyebab Kegemukan Selain Makanan. Available at: http://wolipop.detik.com/read/2012/02/20/105920/1846454/849/5/5-faktor-penyebab-kegemukan-selain-makanan#bigpic accessed on March, 8th 2013
  11. Doni. 2013. Obesitas, Bahaya dan Penanggulangannya. Available at: http://news.cobadulu.com/2012/03/15/obesitas-bahaya-dan-penanggulangannya/ accessed on March, 10th 2013.
  12. Lusiya, Anita. 2012. Pencegahan Obesitas. Available at: http://anitalusiyadewi.blogspot.com/2012/05/pencegahan-obesitas-biasanya-dilakukan.html accessed on March, 10th 2013.
  13. Sargowol, Djanggan., Andarini, Sri. 2011. The Relationship Between Food Intake and Adolescent Metabolic Syndrome. J Kardiol Indones: Jurnal Kardiologi Indonesia, 32: 14-23, [pdf]. available at: http:// indonesia.digitaljournals.org/index.php/karidn/article/view/103 accessed on March, 16th 2013
  14. Rahman, Usep Basuki dkk. 2012. Hubungan Obesitas dengan Risiko Obstructive Sleep Apnea (OSA) Pada Remaja. Available at: http://digilib.stikesmuhgombong.ac.id/download.php? id=288 accessed on March, 16th 2013
  15. Aryana, IGPS dkk., 2011. Korelasi antara Obesitas Sentral dengan  Adinopektin Pada Lansia dengan Penyakit Jantung Koroner. J Peny Dalam, Volume 12 Nomor 2 Mei 2011, [pdf], available at: http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&ved=0CDsQFjAB&url=http%3A%2F%2Fojs.unud.ac.id%2Findex.php%2Fjim%2Farticle%2Fdownload%2F3929%2F2921&ei=7ChFUdzWKdGIrAeGzYHABQ&usg=AFQjCNHPuVUL35mrhxaZsetnBhUSCU5bSQ&bvm=bv.43828540,d.bmk accessed on March, 16th 2013

12 komentar:

  1. WULANDARI ( 10111001035 )
    Assalamualaikum
    saya ingin bertanya teman :))
    Obesitas identik dengan kelebihan berat badan. Di Indonesia, banyak penderita obesitas untuk melakukan " SEDOT LEMAK " untuk mengurangi berat badan tersebut.
    - Apakah ini merupakan salah satu pencegahan dari mengatasi obesitas ?
    - Apakah dengan melakukan itu penderita dapat dikatakan tidak lagi obesitas ?
    - Bagaimana dampaknya bagi kesehatan ?
    Terimakasih :)) wslm

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya dede suhartati mencoba untuk menjawab pertanyaan dari wulandari.
      1. apakah sedot lemak merupakan salah satu pencegahan dari obesitas?
      telah banyak yang kita ketahui bahwa sedot lemak itu suatu cara instan supaya tubuh kita terlihat langsing atau indah akan tetapi menurut saya sedot lemak tidak termasuk salah satu pencegahan obes karena mengingat banyak dampak yang akan terjadi pada tubuh kita. karena jika sedot lemak dilakukan pada penderita obes untuk menurunkan berat badan secara instan maka yang akan timbul ialah banyak efek negatifnya, salah satu contohnya adalah kulit menjadi kendur. Belum lagi perawatannya yang tergolong mahal, mulai dari menyembuhkan luka sayatan hingga mencegah timbunan lemak yang terbentuk kembali. (“Sedot lemak lebih ditujukan untuk body shaping atau membentuk badan. Dokter bedah plastik juga punya keterbatasan, tidak mungkin semuanya disedot,” ungkap pakar obesitas, Dr Samuel Oetoro, MS, SpGK dalam konferensi pers Seminar dan Kursus Obesitas ke-6 di Hotel Borobudur, Jumat (8/4/2011)).
      2. apakah dengan sedot lemak penderita tidak lagi obes?
      tidak menjamin. karena berdasarkan dalam jurnal Obesity bahwa lemak yang disedot keluar akan datang kembali bahkan lebih parah, lemak-lemak tersebut akan datang kembali di bagian lain tubuh, seperti lengan dan bahu.
      Penelitian ini diikuti dua kelompok wanita, satu kelompok peserta non-gemuk yang telah melakukan sedot lemak pada perut dan paha dan kelompok lainnya adalah peserta yang diminta untuk menahan diri tidak melakukan prosedur ini (mereka menjabat sebagai kelompok pengontrol dan ditawarkan tarif diskon untuk melakukan sedot lemak setelah penelitian).
      Peneliti menemukan bahwa semua lemak yang disedot pada akhirnya kembali, terkadang membutuhkan waktu selama setahun dan kembali didistribusikan secara berlebih sebagaimana dijelaskanoleh Dr. Teri Eckel, salah seorang penulis utama studi ini.
      Para peneliti mengatakan bahwa tubuh kita bergantung pada lemak, sehingga ketika lemak ini dihilangkan, secara otomatis tubuh akan memproduksi sel lemak baru untuk mengganti lemak yang hilang. Para peneliti juga mengatakan bahwa sel-sel lemak memiliki jangka hidup sekitar tujuh tahun dan ketika lemak-lemak itu menjadi gudang, bentuk yang baru pun terbentuk. Operasi sedot lemak dapat merusak struktur yang ada di area tersebut sehingga sel-sel lemak esensial melakukan pengembangan baru dari tubuh.
      3. dampaknya bagi kesehatan?
      banyak efek yang dapat terjadi jika kita menginginkan cara instan yang serba ingin cepat untuk nuruni berat badan diantarannya:
      a. Kerusakan organ internal. Sedot lemak kan dilakukan dengan menghilangkan sel-sel lemak tubuh dengan menggunakan tabung bernama cannula. Jika tabung itu dimasukkan lebih dalam dari yang dibutuhkan, cannula ini dapat merusak organ internal, terutama saat mengeluarkan lemak dari perut.
      b. Gangguan keseimbangan cairan dalam tubuh. Lemak mengandung banyak cairan yang akan dihilangkan saat kita melakukan sedot lemak. Bisa kita bayangkan, saat dokter melakukan sedot lemak, dokter juga akan menyuntikkan cairan ke dalam tubuh kita, ini bisa menyebabkan ketidakseimbangan cairan yang cukup parah, walaupun hanya sementara. Kelebihan cairan juga akan mempengaruhi organ-organ vital seperti jantung dan paru-paru.
      c. Alergi dan Infeksi. Sedot lemak datang bersama dengan risikonya. Alergi dan infeksi adalah dua hal yang melekat dari sedot lemak. Dokter akan menusuk kulit dan jaringan yang lebih dalam dengan cannula. Prosedur ini biasanya memerlukan beberapa kali tusukan dan obat yang menjaga tubuh tetap stabil dan bebas nyeri. Risiko alergi dan infeksi hadir dari alat-alat bedah yang digunakan selama proses sedot lemak berlangsung.

      Hapus
    2. Terimakasih atas jawabannya, sangat memuaskan :)

      Hapus
  2. saat ini kebanyakan kasus obesitas yang terjadi adalah kesalahan orang tua yang memberikan makanan yang tidak seimbang dimana orang tua tidak mau anaknya mengalami kekurangan gizi nah pemberiaan makan yang tidak seimbang ini berpengaruh dengan kebiasaan makan si anak hingga dewasa, menurut anda bagaimana anda menaggapi hal tersebut, karena ternyata orang tua berpengaruh terhadap meningkatnya kasus obes saat ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada banyak hal yang menyebabkan munculnya obesitas terutama pada anak-anak. Pola makan yang tidak sehat memberikan kontribusi yang besar sebagai penyebab terjadinya obesitas pada anak-anak. Konsumsi makanan yang berlebihan menyebabkan peningkatan jumlah cadangan lemak yang juga berlebihan di jaringan lemak tubuh. Para orang tua kerap kali beranggapan bahwa anak yang gemuk adalah anak yang sehat. Dan untuk persepsi tersebut mereka cenderung memberikan makanan sebanyak mungkin untuk anak-anak mereka tanpa memikirkan efek negatif dari tindakan tersebut.

      selain itu terdapat kesalahan yang umumnya tidak disadari oleh orangtua, antara lain ; menyajikan makanan untuk anak dalam porsi yang besar

      Kebanyakan orang tua memberikan makanan dalam porsi besar kepada anak dengan alasan agar anak mendapatkan nutrisi yang cukup. Tetapi hal tersebut merupakan sebuah kesalahan, penuhi nutrisi anak dengan menu makanan yang seimbang, yaitu yang mengandung karbohidrat, protein dan unsur gizi lainnya yang diperlukan tubuh.

      Memberikan makanan dalam porsi besar tanpa mempertimbangkan unsur gizinya hanya akan membuat anak mengalami kelebihan berat badan.

      memberikan makanan pada anak yang sama dengan makanan orang dewasa

      Ketika anak telah menginjak usia 5 tahun, kebanyakan orang tua berpendapat bahwa memberikan menu makanan yang sama dengan makanan orang dewasa aman utuk anak. Padahal makanan seperti pizza, nugget, kentang goreng dan burger yang biasa Anda makan, tidak cocok diberikan pada anak di usia yang masih muda.

      Hal tersebut hanya akan memicu obesitas karena asupan nutrisi yang terlalu berlebihan dan tidak sesuai dengan kebutuhan anak.

      Hapus
    2. sedikit menambahkan,
      Jika kelebihan berat badan (obesitas) pada anak sudah terlanjur terjadi, maka kelebihan berat pada anak tersebut tidak boleh diturunkan secara drastis atau bahkan instan seperti sedot lemak. Karena penyusutan berat pada anak akan sekaligus menghilangkan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan.

      Seperti yang kita ketahui, kelebihan berat badan baik pada orang dewasa maupun anak-anak terjadi karena ketidakseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang keluar, terlalu banyak makan, terlalu sedikit olahraga, atau keduanya.

      Jadi, laju pertambahan berat pada anak sebaiknya dihentikan atau diperlambat sampai proporsi berat terhadap tinggi badan (IMT) kembali normal. Perlambatan ini dapat dicapai dengan cara mengurangi makan dengan tetap mempertahankan kandungan gizi yang seimbang sambil memperbanyak olahraga.

      Hapus
  3. sri yuli rahayu yang pertanyaan diatas

    BalasHapus
  4. Saya Indah Dwi Wahyuni mewakili kelompok MAAG.
    Mau share sedikit seputar obesitas. Teman ibu saya pada saat awal menikah sudah mengalami obesitas, stelah hampir 5 tahun pernikahan belum mempunyai anak. Akhirnya, dia berpikir mungkin itu karena berat badannya yang berlebih. kemudian dia melakukan diet ketat dengan rutin mengkonsumsi jus wortel. setelah dietnya berhasil, dia dikaruniai anak bahkan sampai 4 jumlahnya :)
    Menurut anda, bagaimana obesitas bisa mempengaruhi kesuburan seseorang? tolong jelaskan.
    Terima kasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. dilihat dari suatu penelitian di Amsterdam :

      Penelitian dari Academic Medical Center di Amsterdam menemukan, obesitas memengaruhi kematangan sel telur dan berdampak pada pembuahan pada wanita penderita obesitas.

      Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal Human Reproduction menggunakan subjek penelitian sebanyak 3.000 pasangan, antara tahun 2002-2004, pada 24 rumah sakit di Belanda. Dokter Jan Willem van der Steeg menemukan hubungan antara kesuburan pada wanita dan body mass index (BMI), yaitu rasio antara tinggi badan dan berat badan. Wanita yang mempunyai BMI atau lebih disebut obesitas.

      Penelitian menemukan, wanita dengan BMI 30 atau lebih mempunyai kemungkinan lebih rendah untuk hamil secara alami dibandingkan wanita yang mempunyai BMI normal antara 21-29.

      "Dalam kasus ini, wanita dengan BMI 30 atau lebih mempunyai kemungkinan hamil spontan menurun sebanyak 26 persen, sedangkan wanita dengan BMI 40 kemungkinan akan semakin menurun sampai 43 persen dan Kemungkinan sulit hamil karena pengaruh hormone leptin yang dikeluarkan oleh jaringan lemak. "Kemungkinan wanita obesitas mengalami kerusakan hormone, dan mengubah kesempatan kesuburan dan proses pertemuan sel telur dan sperma, hal tsb yang menggaggu ovulasi.



      selain itu ada penelitian lagi terkait kasus ini yaitu :

      Pengaruh ketidaksuburan akibat obesitas terjadi pada laki-laki dan perempuan. Penelitian tentang hubungan antara obesitas dan kesuburan sudah banyak dilakukan dengan hasil yang mendukung.

      Dikatakan oleh DR. Dr. Elvina Karyadi, MSc., perempuan obesitas biasanya mengalami anovulatory chronic atau haid tidak teratur secara kronis. "Hal ini mempengaruhi kesuburan, di samping juga faktor hormonal yang ikut berpengaruh," tandas dokter ahli gizi dari Seameo-Tropmed UI ini.


      Perubahan hormonal atau perubahan pada sistem reproduksi bisa terjadi akibat timbunan lemak pada perempuan obesitas. "Timbunan lemak itu memicu pembuatan hormon, terutama estrogen," jelas Dr. Yanto Kadarusman, Sp.OG-KFER, konsultan fertilitas dari FKUI-RSCM Jakarta.



      Normalnya, pada usia reproduksi calon hormon estrogen ini berasal dari ovarium. Selain sebagai penghasil gamet atau ova, ovarium juga berperan sebagai organ endokrin karena menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Hanya saja, pada perempuan obesitas, estrogen ini tidak hanya berasal dari ovarium tapi juga dari lemak yang berada di bawah kulit.


      "Lemak bawah kulit itu berisi kolesterol, dan lemak. Ini prekursor dari estrogen," ujar Dr. Yanto. Maksudnya, estrogen yang berasal dari luar ovarium cukup banyak dibuat. Padahal dari dalam ovarium sendiri belum banyak estrogen yang terbentuk.


      Hal ini lalu menyebabkan keluarnya luitenizing hormone (LH) sebelum waktunya. LH yang terlalu cepat keluar menyebabkan telur tidak bisa pecah dan progesteron tidak terangsang, sehingga pada suatu waktu siklusnya menjadi berantakan. Kejadian ini bisa dilihat dari siklus haid yang tidak teratur, jumlah haid yang keluar cukup banyak, dan juga masa haid yang lebih lama.

      Hapus
  5. menambahkan pertanyaan sebelumnya penyakit yang dbahas oleh kelompok kami ternyata berhubungan denga penyakit kelompok anda, bisa anda menjelaskan kenapa kebanyakan penderita asma adalah orang-orang yang mederita obesitasnpula ? ( sri yuli rahayu)

    BalasHapus
  6. Saya dwi mulia atikah ingin bertanya. Saya pernah mempunyai teman , dalam keluarga hanya dia yang obesitas, bahkan kakaknya bertubuh mungil. Dia menjelaskan bahwa dia mengalami obesitas sejak sakit-sakitan dan terlalu banyak di infus. Apakah ada hubungannya antara infus dan obesitas? Terimakasih :)

    BalasHapus
  7. saya sangkut hayati dari kelompok maag ingin bertanya. apabila seseorang dengan obesitas dan ingin menjalani diet, namun dia juga memiliki penyakit maag. bagaimana diet yang sebaiknya dia lakukan untuk mengatasi obesitas tersebut?
    terima kasih :)

    BalasHapus